Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada sembilan perusahaan yang antre untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) hingga 6 November 2026. Dari jumlah tersebut, empat perusahaan di antaranya berasal dari sektor kesehatan atau healthcare.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menyampaikan bahwa hingga tanggal tersebut, tujuh perusahaan telah berhasil mencatatkan saham di BEI dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 2,16 triliun. Ia merinci, sembilan perusahaan yang masih dalam antrean IPO terdiri dari satu perusahaan dengan aset skala kecil, lima perusahaan skala menengah, dan tiga perusahaan skala besar.
Sebagai informasi, perusahaan skala kecil memiliki aset di bawah Rp 50 miliar, skala menengah antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar, sementara skala besar memiliki aset di atas Rp 250 miliar, sesuai klasifikasi aset berdasarkan POJK Nomor 53/POJK.04/2017. Selain sektor kesehatan, pipeline IPO juga mencakup dua perusahaan dari sektor barang baku, dua perusahaan energi, dan satu perusahaan sektor keuangan.
Di sisi lain, BEI juga melaporkan perkembangan penghimpunan dana melalui penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Hingga kini, sebanyak 156 emisi dari 67 penerbit EBUS telah diterbitkan dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 157,73 triliun. Terdapat 29 emisi dari 19 penerbit EBUS yang masih dalam pipeline.
Sektor infrastruktur mendominasi pipeline EBUS dengan lima perusahaan, diikuti sektor keuangan sebanyak empat perusahaan, serta basic materials dan energi masing-masing tiga perusahaan. Pipeline EBUS juga mencakup masing-masing satu perusahaan dari sektor healthcare, perindustrian, properti dan real estat, serta transportasi dan logistik.
Untuk aksi korporasi rights issue, hingga 6 November 2026 tercatat 16 perusahaan telah menerbitkan saham baru dengan total nilai mencapai Rp 37,35 triliun. Saat ini, masih ada satu perusahaan dari sektor properti dan real estat yang berada dalam pipeline rights issue BEI.
Perkuat Ekosistem Pasar Modal
BEI terus berupaya memperkuat ekosistem pasar modal melalui berbagai inisiatif strategis. Salah satunya adalah peluncuran Go Public Academy for SMEs yang merupakan bagian dari program RISE to IPO. Program ini bertujuan meningkatkan kesiapan perusahaan, terutama usaha kecil dan menengah, dalam mengakses pendanaan melalui pasar modal.
Sejak 2025, program RISE to IPO telah menjangkau 281 perusahaan di lima kota besar, yaitu Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Bandung. Program ini meliputi edukasi, peningkatan kapasitas, serta pendampingan agar perusahaan memiliki tata kelola, kesiapan keuangan, dan transparansi yang memadai sebelum go public.
BEI juga memperkuat keterbukaan informasi kepemilikan saham melalui penerbitan ketentuan baru mengenai laporan bulanan kegiatan registrasi kepemilikan saham. Ketentuan ini akan melengkapi informasi kepemilikan di atas 1% dengan status pemegang saham sebagai pengendali atau afiliasi pengendali, yang akan dipublikasikan setiap bulan.
Selain itu, BEI bersama pemangku kepentingan pasar modal menggelar CEO Networking 2026 untuk mendorong penguatan transparansi, tata kelola perusahaan, dan kualitas keterbukaan informasi. Penyelenggaraan Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 pada 5–7 November 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperluas literasi dan inklusi pasar modal, yang menghadirkan 88 booth dan lebih dari 100 tenant dari berbagai pelaku industri pasar modal.
Berbagai inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor sekaligus mendorong lebih banyak perusahaan memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang. Sementara itu, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama periode 2–6 November 2026 terkoreksi 0,13% ke level 5.050,429. Kapitalisasi pasar BEI turun 1,34% menjadi Rp 8.744 triliun.
Rata-rata nilai transaksi harian juga menyusut 23% menjadi Rp 11,04 triliun. Meskipun demikian, investor asing mencatat pembelian bersih sebesar Rp 328,2 miliar pada perdagangan Jumat, 6 November 2026. Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing masih membukukan jual bersih sebesar Rp 98,08 triliun.
Komentar