MSCI Usulkan Klasifikasi Ulang, Investor Indonesia Dihadapkan pada Ketidakpastian

Perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI memicu kekhawatiran. Akademisi Prof. Lukas Setia Atmaja membagikan pandangan strategis mengelola risiko investasi di tengah ketidakpastian.

MSCI Usulkan Klasifikasi Ulang, Investor Indonesia Dihadapkan pada Ketidakpastian
Ilustrasi MSCI. Ist

Perubahan sentimen investor global, ketidakpastian ekonomi, dan dinamika regulasi dapat memicu pergerakan pasar keuangan yang sulit diprediksi. Situasi ini kembali mengemuka seiring usulan MSCI pada Oktober 2026 untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging markets menjadi standalone markets. Pada bulan yang sama, Institute of International Finance (IIF) mencatat arus keluar investasi portofolio asing dari emerging markets mencapai US$ 33,8 miliar, menunjukkan pentingnya manajemen risiko bagi investor.

Menyikapi kondisi pasar yang bergejolak, akademisi dan pendiri Hungry Stock, Prof. Lukas Setia Atmaja, membagikan perspektifnya melalui podcast Stockbit. Ia menggunakan analogi perjalanan Odysseus untuk menggambarkan tantangan dalam mencapai financial goals melalui investasi saham.

“Jadi masing-masing orang itu punya financial goals kan. Nah, untuk mencapai itu ternyata tidak mudah. Ini saya punya banyak teman dan saya juga mengalami bahwa saham itu tidak mudah, tidak bisa instan gitu. Jadi saham itu di awal ini saya bisa mengatakan itu seperti perjalanannya Odysseus nih. Banyak risiko di dalamnya ya,” ujar Lukas.

Lukas melihat peran MSCI saat ini layaknya Poseidon yang mengamuk, sementara investor ritel diibaratkan Odysseus yang terkena dampaknya. Namun, ia menilai bahwa tindakan MSCI ini merupakan ‘kemarahan’ yang baik karena Indonesia masih memiliki kekurangan pada stock market.

“Kalau menurut saya memang kita masih banyak kekurangan di stock market kita ya. Harusnya ini adalah sebuah momentum yang bagus menurut saya untuk bersih-bersih gitu loh,” tutur Lukas.

Ia melanjutkan, sama seperti Odysseus yang menghadapi berbagai rintangan tak terduga dalam perjalanannya menuju Ithaca, investor ritel juga harus mempelajari cara menghadapi uncertainty di pasar saham. Bermain saham, menurutnya, sangat erat kaitannya dengan ketidakpastian.

“Siapa sih yang bisa menduga misalnya 1 atau 2 tahun yang lalu atau even 3 atau 4 hari yang lalu bahwa eh MSCI itu bisa mengancam gitu downgrade-nya sampai stand alone gitu, kan ya mungkin 99,99% enggak ada yang menyangka itu,” ujarnya.

“Nah unexpected atau risiko itu yang kita hadapi. Karena invest saham itu kan kita invest risiko, meski memang iming-imingnya menarik tuh kan. Nah, yang uncertainty ini yang kita mesti pelajari supaya kita bisa mengarungi tadi perjalanan yang sulit tadi itu bisa selamat. Bagaimana kita managing risiko ini? Bagaimana kita me-manage uncertainty tadi itu?” pungkas Lukas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *