Emas di US$ 4.000: Titik Menarik atau Ancaman Koreksi Mendalam?

Analis pasar mengamati harga emas di US$ 4.000 per troy ounce, potensi titik masuk menarik atau ancaman koreksi dalam, seiring pergeseran aset safe-haven.

Emas di US$ 4.000: Titik Menarik atau Ancaman Koreksi Mendalam?
Ilustrasi emas batangan. (Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/rwa)

Pergerakan harga emas di level US$ 4.000 per troy ounce tengah menjadi sorotan analis pasar. Level ini dinilai berpotensi menjadi titik masuk yang menarik bagi investor. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran mengenai tren pelemahan yang mungkin terjadi.

Pada perdagangan Jumat (6/11/2026), harga emas di pasar spot tercatat turun 0,56% menjadi US$ 4.066 per troy ounce. Michele Schneider, Kepala Strategi Pasar di MarketGauge, menyarankan agar investor memantau pergerakan harga emas dengan penuh kesabaran.

Schneider, yang sebelumnya dikenal optimistis terhadap prospek harga emas jangka panjang, kini mengaku tidak memiliki posisi apa pun baik untuk emas maupun perak. Sikap hati-hatinya mencerminkan kekhawatiran yang meningkat bahwa emas mungkin telah kehilangan daya tariknya sebagai aset aman tradisional, meskipun faktor fundamental yang mendorong harga emas ke rekor tertinggi awal tahun ini masih bertahan.

“Peran emas sebagai pelarian menuju aset aman telah rusak,” ujar Schneider, mengutip Kitco News pada Sabtu (7/11/2026).

Dari sisi teknikal, Schneider mengidentifikasi level harga US$ 3.940 per troy ounce sebagai level support krusial. Penembusan di bawah level ini dapat memicu koreksi yang lebih dalam, bahkan berpotensi mendorong harga emas menuju US$ 3.500 per troy ounce dan menguji ulang level US$ 2.500 di kemudian hari.

Meskipun demikian, Schneider tidak menutup kemungkinan adanya pemulihan harga emas. Jika harga berhasil naik kembali di atas US$ 4.000, hal ini dapat menciptakan peluang untuk mengambil posisi beli secara taktis. Namun, ia menekankan pentingnya pengendalian risiko yang ketat bagi investor.

Schneider juga mengingatkan agar investor tidak berasumsi emas akan pulih secara otomatis hanya karena argumen fundamental yang mendukung kenaikan harga masih ada. “Dalam dinamika komoditas, sering kali terjadi kondisi di mana secara teknikal atau tren pasar mengalami kerusakan, dan kebenaran di baliknya baru terungkap belakangan,” jelasnya.

Salah satu perubahan signifikan yang diamati adalah kembalinya daya tarik obligasi pemerintah AS sebagai aset pelindung nilai. Penurunan imbal hasil obligasi telah menarik kembali minat investor terhadap surat utang pemerintah AS (Treasuries), yang berpotensi mengurangi permintaan emas karena komoditas ini tidak memberikan imbal hasil.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *