Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi bahwa militer AS baru saja melancarkan “serangan minor” terhadap sasaran strategis di Iran. Pernyataan ini muncul di tengah laporan mengenai dua rudal yang menghantam kawasan Pulau Qeshm, wilayah vital Iran yang berdekatan dengan Selat Hormuz pada Sabtu (7/11/2026).
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan dua ledakan rudal mengguncang Pulau Qeshm pada Jumat. Hingga kini, belum ada rincian resmi mengenai tingkat kerusakan atau korban jiwa akibat insiden tersebut. Saat memberikan keterangan kepada awak media di West Palm Beach, Florida, Trump enggan merinci lokasi pasti penggempuran di Pulau Qeshm.
“Saya tidak ingin membicarakannya secara mendalam,” ujar Trump. Ia mengonfirmasi adanya tindakan militer taktis oleh AS. “Kami melancarkan serangan-serangan minor, namun dampaknya langsung merontokkan sasaran. Mereka sempat membangun sedikit sistem pertahanan antipesawat udara, dan kami menghancurkannya hanya dalam waktu sekitar 15 menit, atau bahkan mungkin lima menit,” tambahnya. Ia tidak secara rinci mengonfirmasi apakah fasilitas yang dihancurkan berada di Pulau Qeshm.
Serangan ini menandai operasi militer pertama AS pasca-pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) yang berlangsung Selasa lalu. Sebelumnya, pengamat geopolitik dan pejabat kawasan berspekulasi apakah hasil pemilu akan mendorong kebijakan Trump ke arah eskalasi militer yang lebih tajam atau kembali ke meja diplomasi.
Pulau Qeshm sendiri telah menjadi sasaran tembak AS pada awal pekan ini. Pejabat AS kepada media MS Now mengklaim tindakan tersebut sebagai “tindakan defensif”.
Trump Klaim Ekonomi Iran Terdesak, Teheran Tuntut Aksi Nyata
Dalam kesempatan yang sama, Trump mengklaim bahwa kondisi ekonomi Iran yang kian terdesak membuat Teheran sangat berhasrat untuk mencapai kesepakatan damai. “Mereka sangat ingin membuat kesepakatan (make a deal). Inflasi mereka mencapai 300%. Angkatan laut mereka sudah hancur. Bandara mereka, semuanya telah habis, dan mereka sangat ingin bernegosiasi,” tegas Trump.
Sebagai catatan objektif, laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang dirilis pada 13 Oktober 2026 memperkirakan indeks harga konsumen (inflasi) di Iran meningkat rata-rata 78,6% pada 2026.
Ketika ditanya mengenai peluang terwujudnya kesepakatan damai dalam waktu dekat, Trump bersikap optimistis. “Yah, di pihak kita tidak ada korban luka maupun gugur. Ini adalah perang di mana kita mungkin berada di sana selama tujuh bulan, tetapi kita mungkin baru benar-benar bertempur aktif selama tiga atau empat minggu. Bandingkan dengan Perang Dunia I atau Perang Dunia II; barulah itu dinamakan perang besar,” tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan bahwa pihaknya membutuhkan tindakan konkret dari AS, bukan sekadar janji di atas kertas sebelum memasuki fase diplomasi baru. “Kami harus melihat langkah-langkah praktis dari pihak Amerika,” tegas Ali Bagheri Kani, Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, kepada stasiun televisi negara IRIB.
Pulau Qeshm yang terletak di lepas pantai selatan Iran memiliki posisi sangat krusial karena berbatasan langsung dengan Selat Hormuz. Selat ini merupakan rute maritim paling vital di dunia yang mengalirkan porsi signifikan pasokan minyak dan gas global, sehingga kerap menjadi titik panas (flashpoint) utama dalam dinamika militer di Timur Tengah.
Eskalasi konflik antara Washington dan Teheran telah berlangsung ketat dalam beberapa bulan terakhir, ditandai dengan aksi saling serang target strategis serta pengetatan sanksi ekonomi. Di tengah terpuruknya kondisi perekonomian domestik Iran dan kerusakan infrastruktur akibat ketegangan militer, wacana perundingan damai mulai kembali mengemuka. Kendati demikian, jurang ketidakpercayaan yang mendalam membuat proses diplomasi tetap rentan, mengingat Iran menuntut bukti penghentian agresi secara nyata sebelum kembali bersedia duduk di meja perundingan.
Komentar