Iran Ajukan Proposal Nuklir ke AS di Tengah Ancaman “Hancurkan” dari Trump

Iran ajukan proposal nuklir dengan tujuh syarat, sementara Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman militer untuk menghancurkan negara tersebut.

Iran Ajukan Proposal Nuklir ke AS di Tengah Ancaman "Hancurkan" dari Trump
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Antara/ Anadolu)

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas menyusul peringatan keras dari Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan “menghancurkan” Iran jika mengambil tindakan balasan militer. Trump juga memperkirakan proses rekonstruksi Iran bisa memakan waktu hingga 25 tahun.

Di tengah ancaman tersebut, pemerintah Iran dilaporkan telah menyampaikan usulan nuklir kepada AS melalui perantara pejabat Qatar. Iran menegaskan bahwa mereka hanya akan bersedia bernegosiasi jika tujuh syarat utama mereka dipenuhi terlebih dahulu.

Seorang pejabat senior Iran yang tidak ingin disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa usulan tersebut telah diterima oleh Gedung Putih, namun enggan memberikan rincian lebih lanjut. Sebelumnya, pejabat tinggi keamanan Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan sikap tegas negaranya. “Terkait isu diplomasi, kami telah menyampaikan tujuh syarat kepada pihak Amerika. Selama mereka belum melaksanakan tujuh syarat tersebut, kami tidak akan membuka Selat Hormuz maupun memulai negosiasi,” tegas Rezaei.

Tujuh Syarat Utama Iran dalam Proposal Nuklir

Meskipun daftar resmi tuntutan Iran belum dipublikasikan, laporan dari Khaleej Times mengindikasikan beberapa poin krusial, antara lain:

  • Penghentian total seluruh bentrokan militer, termasuk di Lebanon.
  • Pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
  • Penghapusan sanksi ekonomi terhadap Iran.
  • Pencairan seluruh aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
  • Pengurangan kehadiran pasukan dan basis militer AS di Timur Tengah.
  • Pembayaran ganti rugi atas kerusakan akibat perang.
  • Penghentian permanen seluruh serangan AS terhadap wilayah kedaulatan Iran.

Pemerintah AS, di sisi lain, menekankan bahwa pembahasan program nuklir Iran harus menjadi agenda utama dalam setiap negosiasi awal.

Dinamika Konflik yang Meluas di Kawasan

Penyerahan proposal ini terjadi di tengah upaya mediator internasional untuk menghentikan konflik bersenjata antara AS dan Iran yang semakin meluas. Kekhawatiran global meningkat menjelang pemilihan sela di AS, dengan Trump tidak menutup kemungkinan dimulainya kembali operasi militer skala penuh pasca-pemungutan suara. Iran pun telah mempersiapkan respons balasan yang lebih luas jika peperangan kembali berkobar.

Konflik terbuka ini berawal dari serangan udara pasukan AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Iran membalas dengan mengarahkan rudal dan nirawak ke sasaran strategis di Israel serta basis militer AS di kawasan Teluk. Eskalasi ini kemudian menjalar ke Lebanon, melibatkan Hizbullah, dan ke Yaman, di mana kelompok Houthi menyerang fasilitas energi dan bandara strategis di Arab Saudi.

Koalisi pimpinan Arab Saudi mengklaim telah mencegat rudal balistik Houthi yang diarahkan ke Madinah, meskipun klaim ini dibantah oleh Houthi. Krisis politik dan militer di Timur Tengah merupakan puncak eskalasi yang dipicu oleh isu nuklir, sanksi ekonomi, serta rivalitas geopolitik antara blok AS-Israel dan jaringan sekutu Iran.

Konflik fisik yang dimulai pada akhir Februari 2026 tidak hanya melumpuhkan infrastruktur domestik Iran, tetapi juga mengganggu rantai pasok energi global akibat penutupan jalur maritim vital di Selat Hormuz. Keterlibatan aktor regional seperti Hizbullah dan Houthi memperluas zona pertempuran menjadi perang multidepan. Di tengah ancaman pembalasan yang lebih luas dan ketidakpastian politik di Washington, jalur diplomasi internasional yang dimediasi oleh Qatar menjadi satu-satunya harapan untuk mencegah kehancuran total di kawasan tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *