Kinerja PT KBI Menguat, Transaksi Kliring Naik 2,6% Hingga Oktober 2026

PT KBI catat kenaikan transaksi kliring 2,6% hingga Oktober 2026. Perusahaan perkuat ekosistem perdagangan berjangka dan Sistem Resi Gudang.

Kinerja PT KBI Menguat, Transaksi Kliring Naik 2,6% Hingga Oktober 2026
PT Kliring Berjangka Indonesia (PT KBI). Dok: PT KBI

JAKARTA – PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau PT KBI terus memperkuat perannya dalam menjaga integritas keuangan dan kepercayaan di industri perdagangan berjangka komoditas nasional. Melalui optimalisasi layanan kliring dan penjaminan transaksi, pengembangan Sistem Resi Gudang (SRG), serta berbagai program pemberdayaan masyarakat, PT KBI berkomitmen menghadirkan ekosistem perdagangan yang aman, transparan, dan berkelanjutan.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko merangkap Plt. Direktur Utama PT KBI, Adiyasa Suhadibroto menjelaskan komitmen tersebut menjadi semakin penting di tengah dinamika industri dan meningkatnya kebutuhan pelaku pasar terhadap kepastian serta transparansi transaksi. PT KBI memastikan seluruh proses kliring dan penjaminan dilaksanakan sesuai ketentuan regulasi, prinsip kehati-hatian, dan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik.

“Kepercayaan pelaku pasar adalah amanah yang kami jaga setiap hari. Setiap transaksi yang kami kliringkan dan jamin berjalan sesuai ketentuan, tercatat dengan baik, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi kami, transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar komitmen, melainkan standar kerja,” ujar Adiyasa dalam keterangan rilisnya dikutip di Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Komitmen tersebut turut tercermin dalam kinerja bisnis perusahaan. Hingga Oktober 2026, total transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) yang dikliringkan PT KBI mencapai 9,27 juta lot, meningkat 2,6% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada 2025. Segmen Loco dan Komoditi Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) mencatat pertumbuhan transaksi sebesar 12,7%. Sementara itu, transaksi pasar fisik timah dalam negeri juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 17,68% secara tahunan.

PT KBI bersama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) terus mendorong implementasi SRG melalui kolaborasi dengan pemangku kepentingan yang semakin beragam, mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemerintah Daerah, Perbankan, Pelaku Usaha, hingga Mitra Internasional.

Kolaborasi ini memperkuat ekosistem SRG, tercermin dari bertambahnya jumlah pengelola gudang baru sepanjang Januari–Oktober 2026, dengan pertambahan 10,6%. Ekosistem ini menjangkau beragam komoditas, mulai dari Gula, Kopi, Tembakau, Gabah dan Beras, hingga Rumput Laut.

PT KBI turut mendukung peluncuran e-Seaweed Platform di Sulawesi Selatan pada 23–24 September 2026, sebuah inisiatif bersama International Labour Organization (ILO) dan Pemerintah Swiss melalui SECO, dengan dukungan OJK serta pemangku kepentingan nasional dan daerah. Platform ini mencatat aktivitas petani rumput laut secara real time, mulai dari budidaya, transaksi, hingga proses di gudang, sehingga data usaha petani terverifikasi sebagai dasar pemanfaatan SRG dan akses pembiayaan yang lebih inklusif. Sebagai Pusat Registrasi, PT KBI memastikan setiap Resi Gudang tercatat dan terverifikasi melalui Sistem IS-Ware Next Gen.

“Resi Gudang bukan sekadar instrumen penyimpanan, melainkan pintu bagi petani dan pelaku usaha komoditas untuk mengakses pembiayaan dan pasar yang lebih luas. Melalui pengembangan SRG dan pencatatan digital seperti e-Seaweed Platform, data komoditas menjadi lebih terverifikasi dan dapat menjadi fondasi kepercayaan bagi perbankan maupun pembeli,” tambah Adiyasa.

Selain menjalankan peran strategis dalam industri perdagangan komoditas, PT KBI juga berupaya menghadirkan dampak sosial dan lingkungan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang sejalan dengan bisnis perusahaan. Program-program tersebut diarahkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, serta mendukung pelestarian lingkungan di berbagai daerah.

Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah Integrated Farming System (IFS): Kemandirian Petani Kedelai. Memasuki tahun ketiga sejak diinisiasi pada 2023, program ini telah mencapai Batch ke-4 dan berpusat di Kabupaten Sukoharjo serta Kabupaten Klaten. Hingga saat ini, IFS telah melibatkan 73 petani lokal dengan total luas lahan produktif mencapai 10 hektare. Melalui pendekatan pertanian terpadu, program ini mendorong peningkatan kapasitas petani sekaligus membangun ekosistem usaha pertanian yang lebih mandiri dan bernilai ekonomi.

Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan juga diwujudkan melalui program reforestasi tanaman kopi di Kabupaten Garut. Program ini mengintegrasikan upaya pemulihan lahan kritis melalui penanaman pohon kopi dengan pemberdayaan petani lokal. Dengan demikian, manfaat yang diharapkan tidak hanya berupa peningkatan tutupan vegetasi, tetapi juga penguatan produktivitas dan nilai ekonomi komoditas kopi bagi masyarakat setempat. Ke depan, PT KBI akan terus memperkuat kualitas layanan kliring dan penjaminan, mendorong digitalisasi, serta memperluas kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.

Melalui langkah tersebut, PT KBI berkomitmen mendukung terciptanya pasar komoditas nasional yang semakin kredibel, kompetitif, dan berkelanjutan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *