ETF Emas di Indonesia: Pahami Risiko Pasar, Likuiditas, dan Tracking Error

Kenali risiko investasi ETF Emas di Indonesia, mulai dari pergerakan harga pasar, likuiditas, hingga potensi tracking error.

ETF Emas di Indonesia: Pahami Risiko Pasar, Likuiditas, dan Tracking Error
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis BEI, Kautsar Primadi Nurahmad di sesi Talkshow ETF Emas: Investasi Emas, Naik Level! di Gedung BEI, Jakarta, Sabtu (7/11/2026). (Tangkapan layar Youtube Indonesia Stock Exchange)

JAKARTA – Berinvestasi dalam Exchange Traded Fund (ETF) Emas, yang baru saja resmi diluncurkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Agustus lalu, tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu dipahami investor.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menjelaskan bahwa risiko utama ETF Emas berasal dari sisi pasar, yang pergerakannya sangat bergantung pada fluktuasi harga emas global.

“Mereka yang beli emas di tahun lalu harganya sedang naik. Meski dalam jangka panjang harga emas naik terus maka menjadi aset safe haven (lindung nilai), tetapi ada dalam suatu periode harga bisa kembali turun, yang tentunya hanya bersifat jangka pendek,” ujar Kautsar dalam sesi Talkshow ETF Emas: Investasi Emas, Naik Level! di Gedung BEI, Jakarta, Sabtu (7/11/2026).

Risiko kedua yang perlu diwaspadai adalah dari sisi likuiditas. Kautsar memaparkan, seperti halnya saham, terkadang terdapat perbedaan antara harga ask (jual) dan bid (beli) dengan harga terakhir saat transaksi ETF Emas.

“Itu risiko dari sisi likuiditasnya. Maka dari itu, Bursa Efek Indonesia ingin meningkatkan kewajiban untuk kuotasi, untuk meningkatkan liquidity. Kita akan mewajibkan liquidity provider sehingga nanti likuiditas di pasar ETF, di pasar sekundernya juga semakin baik. Sehingga nanti investor juga bisa membeli dengan harga yang terbaik,” jelasnya.

Selanjutnya, Kautsar menyebutkan risiko ketiga, yaitu tracking error. Risiko ini terjadi ketika harga ETF tidak sepenuhnya mencerminkan pergerakan harga aset acuannya. Oleh karena itu, penting bagi manajer investasi untuk terus menjaga agar harga ETF tidak berjarak terlalu jauh dari harga acuan emas batangan yang ada di pasar.

“Tetapi tentunya dengan penjaga itu tetap ada tracking error, dengan harga emas batangan yang ada di Pegadaian maupun di penyedia bullion. Maka dari itu balik lagi, kalau misalkan kita mau berinvestasi apapun, ketahui jenis investasi yang diminati. Jadi kita harus mempelajari produknya terlebih dahulu,” tambahnya.

Sementara itu, di pasar global, ETF Emas menunjukkan tren positif. Dikutip dari Kitco News, World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa arus masuk ke dalam ETF emas di China mencapai total 11 ton pada September 2026. Angka ini menandai peningkatan bulanan selama tiga bulan berturut-turut.

“Total kepemilikan mencapai 304 ton, sebuah rekor pada akhir bulan,” ungkap kepala riset untuk wilayah China di WGC, Ray Jia dalam laporan terbaru WGC terkait pasar emas di China.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *