|

Populasi Margasatwa Dunia Merosot karena Aktivitas Manusia

Satuan anti-perburuan satwa liar China menyita sejumlah barang bukti perdagangan ilegal satwa liar di Kota Guangde, Provinsi Anhui, China, 9 Januari 2020. (Foto: AP)
Suara Landak - Dilansir dari VOA, Dana Margasatwa Dunia (World Wildlife Fund/WWF) dalam laporan yang dirilis pada Kamis (10/9/2020) memperingatkan populasi satwa liar dunia telah turun rata-rata 68 persen hanya dalam 40 tahun. Penyebab penurunan tersebut adalah konsumsi manusia.

The 2020 Living Planet Report adalah upaya kolaborasi antara sekitar 125 individu, melacak hampir 21.000 populasi dari 1970 hingga 2016. Populasi yang mereka lacak mencakup spesies mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi.

Para pakar mengatakan, penebangan hutan untuk tujuan pertanian dan perdagangan satwa liar adalah faktor utama penurunan tersebut. Namun, keberadaan spesies pendatang dan perubahan habitat padang rumput, sabana, hutan dan lahan basah sebagai akibat perubahan iklim juga merupakan komponen kunci.

"Deforestasi, dan dalam arti yang lebih luas hilangnya habitat, yang didorong oleh cara kita memproduksi dan mengonsumsi pangan - adalah penyebab utama penurunan yang drastis ini," jelas Fran Price, pemimpin praktik hutan global di WWF International.


Namun, populasi satwa liar bukan satu-satunya yang berada dalam bahaya akibat penurunan spesies dan penggundulan hutan.

Tim ilmuwan mengatakan kerusakan lingkungan yang cepat berperan penting dalam penyebaran zoonosis, penyakit-penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, seperti Covid-19.

Hutan bertindak sebagai penyangga untuk menjauhkan penyakit zoonosis dari manusia, kata ahli lingkungan. Dengan semakin banyak hutan dirusak, semakin besar risiko manusia tertular zoonosis.

Penulis laporan tersebut mengatakan, wilayah Amerika Latin dan Karibia menghadapi imbas terbesar. Penurunan populasi satwa liar di wilayah tersebut rata-rata 94 persen. Price percaya produksi komersial skala besar minyak sawit, kedelai dan daging sapi di daerah itu turut menyebabkan penurunan itu.

Para pakar lingkungan mengatakan, melestarikan hutan dan memulihkan kerusakan mengurangi risiko banjir, membantu membatasi pemanasan global dengan menyimpan lebih banyak karbon dan melindungi keanekaragaman hayati. Sampai 2019, data dari Global Forest Watch, yang memantau hutan di seluruh dunia, menunjukkan hutan tropis berkurang dengan kecepatan 12 juta hektar per tahun sebagai akibat deforestasi.

Para pakar mengatakan, meskipun perubahan iklim belum menjadi penyebab terbesar hilangnya keanekaragaman hayati, pada tahun-tahun mendatang, perubahan iklim akan menjadi penyebab utama penurunan spesies. (VOA)
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini