Stasiun Gambir Direvitalisasi Jadi Kawasan Terpadu, Proyek Rp2 Triliun Mulai Dua Tahun

PT KAI mempercepat revitalisasi Stasiun Gambir dan mengintegrasikannya dengan penataan kawasan Monas. Proyek senilai Rp2 triliun ini ditargetkan selesai dalam dua tahun.

Stasiun Gambir Direvitalisasi Jadi Kawasan Terpadu, Proyek Rp2 Triliun Mulai Dua Tahun
Stasiun Gambir dengan fasilitas face recognition. (Foto Ist)

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tengah mempercepat rencana revitalisasi Stasiun Gambir, Jakarta. Proyek ambisius ini tidak hanya akan membenahi fasilitas stasiun, tetapi juga mengintegrasikannya dengan penataan kawasan Monumen Nasional (Monas) menjadi satu kesatuan kawasan terpadu. Proyek yang diperkirakan menelan anggaran lebih dari Rp2 triliun ini ditargetkan selesai dalam dua tahun pengerjaan yang dibagi menjadi dua tahap.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa percepatan program revitalisasi Stasiun Gambir menjadi salah satu agenda penting yang telah dibahas dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. “Barusan dipapar Presiden membicarakan dua hal. Yang pertama adalah percepatan program revitalisasi Stasiun Gambir, di mana nanti di Monas ini akan dibuat suatu kawasan yang terintegrasi semua,” ujar Bobby usai rapat terbatas.

Bobby menjelaskan, pengerjaan revitalisasi Stasiun Gambir akan dilaksanakan dalam dua tahap. “Kami sampaikan bahwa untuk revitalisasi Gambir itu ada dua tahapan, kedua tahapan itu akan memakan waktu dua tahun,” ucapnya. Selain menghubungkan stasiun dengan kawasan Monas, KAI juga merencanakan integrasi Stasiun Gambir dengan layanan MRT Jakarta di koridor barat. Rencana ini bertujuan menghubungkan akses transportasi dari kawasan timur, yang mencakup Stasiun Gambir, dengan koridor MRT di bagian barat.

Sebelumnya, KAI telah menyiapkan pengembangan Stasiun Gambir secara bertahap untuk memperkuat layanan transportasi publik di pusat ibu kota. Transformasi stasiun ini diarahkan untuk mempertahankan perannya sebagai gerbang utama perjalanan kereta api jarak jauh (KAJJ), sekaligus meningkatkan konektivitas antarmoda dan kenyamanan penumpang. Stasiun Gambir memiliki peran strategis karena lokasinya yang berada di dekat kawasan Monas, pusat pemerintahan, perkantoran, hotel, serta berbagai ruang publik.

Dalam kajian pengembangan New Gambir, KAI merancang transformasi stasiun menjadi pusat pengalaman perjalanan yang memadukan mobilitas, hospitality, leisure, dan peningkatan nilai kawasan. Konsep ini akan menjadikan Gambir sebagai hub yang menghubungkan layanan kereta api jarak jauh, kereta rel listrik (KRL), MRT, bus raya terpadu (BRT), serta kawasan Monas. Pengembangan Stasiun Gambir juga merupakan bagian dari upaya KAI memperkuat keterhubungan transportasi publik di wilayah Jabodetabek.

Kebutuhan Mendesak Pengadaan Kereta Commuter

Di sisi lain, Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Dedy Herlambang, menyarankan agar PT KAI tidak hanya fokus pada pengembangan Stasiun Gambir. Menurutnya, pengadaan train set untuk menambah kapasitas perjalanan KRL Commuter Line di wilayah Jabodetabek menjadi kebutuhan yang jauh lebih mendesak. Ia menilai, meskipun Stasiun Gambir membutuhkan penataan, fungsinya melayani penumpang kereta jarak jauh masih berjalan baik.

“Akan tetapi ada kebutuhan yang sepertinya mendesak untuk dilakukan seperti pengadaan kereta Commuter,” ujar Dedy. Ia menambahkan, KAI seharusnya membuat skala prioritas berdasarkan kebutuhan pengguna secara langsung. Ia juga mengingatkan adanya isu kereta cepat yang tantangannya adalah meningkatkan jumlah penumpang per pekan, terutama di hari biasa. Dedy juga menyoroti kondisi kereta-kereta KRL dan lokomotif yang sudah menua dan perlu peremajaan, serta kondisi stasiun KRL Jabodetabek yang masih memprihatinkan.

Arahan Presiden untuk Bali dan Museum

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Direktur Utama PT KAI juga membahas rencana pengembangan infrastruktur transportasi di Bali. Salah satu arahan Presiden adalah revitalisasi Stasiun Gambir yang belum pernah direnovasi sejak era 1970-an. Stasiun Gambir diharapkan dapat menjadi pusat stasiun nasional sekaligus kawasan hiburan, wisata, dan rekreasi keluarga di jantung ibu kota.

Selain Stasiun Gambir, Presiden Prabowo juga mengarahkan revitalisasi kawasan Monas agar lebih nyaman dan indah, sekaligus memperkuat nilai sejarah dan edukasi. Presiden juga menginginkan pembangunan Museum Agung Nasional atau Grand National Museum di kawasan Monas. “Bapak Presiden ingin Indonesia memiliki museum berskala besar yang menjadi pusat sejarah, pendidikan, hiburan, dan rekreasi, khususnya bagi para pelajar dan generasi muda,” ungkap Teddy.

Di sektor transportasi, Presiden Prabowo memberikan arahan untuk memulai pembangunan layanan kereta api di Provinsi Bali. Tahap awal, jalur tersebut direncanakan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan sejumlah kawasan wisata seperti Kuta, Legian, Seminyak, Canggu, hingga kawasan di wilayah utara. Teddy menegaskan bahwa berbagai rencana pengembangan ini merupakan bagian dari keinginan Presiden Prabowo untuk menghadirkan fasilitas publik yang lebih baik dan menjadi kebanggaan nasional.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *