Wall Street mayoritas menguat pada perdagangan Jumat, ditopang oleh pemulihan saham-saham teknologi dan semikonduktor setelah mengalami aksi jual besar-besaran sehari sebelumnya. Indeks Nasdaq Composite melonjak lebih dari 1% seiring investor mulai memburu saham teknologi yang harganya tertekan tajam.
Mengutip laporan internasional, Nasdaq Composite menguat 1,09% dan ditutup di level 24.579,42. Indeks S&P 500 naik 0,31% menjadi 7.376,86. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 237,33 poin (0,46%) ke posisi 51.285,73.
Penguatan Nasdaq terjadi setelah aksi jual pada Kamis menyeret ketiga indeks utama Wall Street ke penurunan harian terdalam sejak April 2025. Pada perdagangan tersebut, Nasdaq anjlok 5,5% dan ditutup lebih dari 10% di bawah level tertinggi terbarunya, sehingga memasuki zona koreksi. S&P 500 terpangkas 4,4%, sedangkan Dow Jones merosot lebih dari 1.800 poin atau 3,4%.
Aksi jual tersebut terutama menghantam saham-saham perusahaan yang terkait dengan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Seluruh 11 sektor dalam indeks S&P 500 ditutup melemah pada Kamis.
Namun, sejumlah investor memanfaatkan penurunan harga untuk kembali memborong saham teknologi pada Jumat. Saham Micron Technology melonjak 5% setelah anjlok 17% pada perdagangan sebelumnya. Nvidia juga menguat hampir 3% setelah sebelumnya terpuruk 9%, sekaligus kembali mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun berjalan. Saham Tesla, Meta Platforms, dan Alphabet juga ikut menguat.
Sebelumnya, kelompok saham teknologi Magnificent Seven kehilangan kapitalisasi pasar gabungan hingga US$1 triliun hanya dalam satu hari perdagangan pada Kamis. Manajer portofolio Quilter Stuart Clark mengatakan besarnya penurunan saham-saham berkapitalisasi besar menunjukkan risiko konsentrasi yang semakin tinggi di pasar saham AS. “Sejumlah kecil saham teknologi dan semikonduktor kini memiliki bobot sangat besar di pasar. Akibatnya, pelemahan saham-saham tersebut dengan cepat menyeret Nasdaq dan S&P 500. Kekhawatiran Pembangunan Data Center,” paparnya.
Tekanan terhadap saham teknologi bermula dari kekhawatiran investor mengenai potensi perlambatan pembangunan pusat data (data center) setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan anggota DPR, Senat, dan sejumlah pemilihan gubernur negara bagian. Sejumlah tokoh Demokrat menyerukan pembatasan pembangunan data center. Gubernur Texas terpilih Gina Hinojosa, dalam wawancara dengan CNN pada Kamis malam, menyatakan pemerintahannya akan membuat aturan untuk melindungi warga Texas dan menghentikan sementara pembangunan data center sampai perlindungan tersebut tersedia. Texas merupakan salah satu pusat pengembangan data center utama di AS.
Chris Grisanti dari MAI Capital Management menilai kekhawatiran investor masih berpotensi bertahan karena Hinojosa dan sejumlah pejabat terpilih lainnya baru akan mulai menjabat pada Januari mendatang. Meski demikian, dia tetap optimistis terhadap prospek industri AI. Menurut dia, pembangunan infrastruktur AI merupakan revolusi industri yang sebanding dengan perkembangan perkeretaapian dan internet sehingga ekspansinya tidak akan berhenti.
Sentimen positif Wall Street pada Jumat juga tertahan oleh kabar bahwa Microsoft berencana mengurangi jumlah mitra penyedia layanan neocloud. Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber yang mengetahui persoalan itu kepada CNBC.
Investor turut mencermati data ketenagakerjaan AS terbaru. Nonfarm payrolls bertambah 165.000 pada Oktober, jauh melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones sebanyak 59.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,1%, dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 4,2%.
Meski berhasil rebound pada perdagangan Jumat, ketiga indeks utama Wall Street masih membukukan penurunan sepanjang pekan ini. Nasdaq terkoreksi 3,4% secara mingguan, sedangkan S&P 500 turun 2,7%. Dow Jones menjadi indeks dengan kinerja relatif lebih baik dengan penurunan 0,9%.
Berdasarkan catatan historis, saham-saham teknologi biasanya mulai menemukan pijakan dalam tiga hingga enam bulan setelah Nasdaq memasuki fase koreksi. Namun, volatilitas perdagangan masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek.
Komentar