JAKARTA – Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mengidentifikasi adanya pekerjaan besar yang harus diselesaikan demi kesuksesan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt peak (GWp). Program ambisius ini diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Gilimanuk, Bali, pada 25 Agustus 2026, dengan target pembangunan dalam kurun waktu tiga tahun.
Kapasitas terpasang PLTS nasional hingga pertengahan 2026 baru mencapai 1,5 gigawatt (GW). Untuk mencapai target tersebut, selain kesiapan regulasi, industri, dan sistem kelistrikan, dibutuhkan informasi yang akurat dan mudah dipahami oleh masyarakat, terutama di daerah yang akan merasakan langsung proyek dan manfaat PLTS.
“Bagi AESI, 100 GWp adalah ambisi sekaligus mandat kerja. Agar ambisi ini menjadi aksi, pemerintah, pelaku industri, dan publik perlu bergerak bersama untuk memahami dan mengawal setiap prosesnya,” ujar Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari dalam acara media training, Sabtu (7/11/2026).
Mada menekankan bahwa media massa memegang peran kunci dalam menyosialisasikan energi surya. AESI berharap pemberitaan dapat menyajikan cerita yang lebih utuh dari sekadar angka target, melainkan juga menyoroti manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Manfaat tersebut meliputi peningkatan keandalan listrik, penciptaan lapangan kerja hijau, hingga pertumbuhan ekonomi lokal.
Diskusi yang menghadirkan tiga narasumber ini mengupas berbagai aspek PLTS. Dari sisi teknis, Manajer Pengendalian Aneka Energi Baru dan Terbarukan PLN, Joko Purnomo, memaparkan peran PLTS sebagai salah satu tumpuan dalam penambahan pembangkit energi terbarukan sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Joko juga mengulas karakteristik berbagai jenis instalasi PLTS, seperti PLTS atap, ground-mounted, hingga terapung. Ia menjelaskan skala penerapannya di sektor utilitas, komersial, industri, dan rumah tangga, serta skema Independent Power Producer (IPP) yang membuka peluang bagi pengembang swasta untuk membangun PLTS dan menjual listriknya kepada PLN.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan sebuah proyek PLTS melibatkan banyak tahapan dan pihak. Oleh karena itu, dukungan publik sangat krusial untuk kesuksesan program kelistrikan nasional. “Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap dapat membangun pemahaman dan sinergi bersama dalam rangka mendukung pengembangan PLTS di Indonesia agar dapat terus tumbuh guna meningkatkan ketahanan energi listrik bagi masyarakat,” tutur Joko.
Sementara itu, AVP of Public Policy & Government Relations Suryanesia yang juga merupakan pengurus AESI, Zidny Ilman, memaparkan perkembangan industri energi surya di Indonesia serta tantangan yang dihadapi para pengembang di lapangan. Dari sisi pendanaan, Director, Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, Tiza Mafira, mengungkapkan peta pembiayaan proyek PLTS di Indonesia yang terus meningkat. Ia juga menyoroti peluang pendanaan hijau global serta kriteria bankability yang menjadi pertimbangan bank dan investor dalam menentukan kelayakan sebuah proyek.
Komentar