Harga minyak mentah dunia menguat tipis pada akhir perdagangan Jumat (6/11/2026). Penguatan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan segera memutuskan nasib kesepakatan damai dengan Iran, bahkan mengancam akan menghancurkan sisa kekuatan negara tersebut. Pernyataan Trump kembali memicu kekhawatiran terhadap potensi serangan AS dan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Minyak mentah Brent untuk kontrak Januari ditutup naik 3 sen (0,03%) menjadi US$ 98,32 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 31 sen (0,34%) ke level US$ 90,83 per barel.
Meski mengalami penguatan pada akhir pekan, harga Brent masih berada di jalur penurunan mingguan sekitar 17%. Jika terealisasi, penurunan ini akan menjadi yang terdalam secara persentase sejak awal pandemi Covid-19 dan terbesar secara nominal berdasarkan data LSEG sejak 1988. Adapun harga WTI diperkirakan terkoreksi sekitar 13% dalam sepekan.
Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan, pelemahan harga minyak sebelumnya mencerminkan berkurangnya premi risiko perang di pasar energi. Hasil pemilu sela AS yang dimenangkan Partai Demokrat sebelumnya meningkatkan harapan terhadap kemungkinan meredanya konflik Iran dan pulihnya ekspor minyak dari kawasan tersebut.
Di sisi lain, pasar minyak juga menghadapi indikasi kelebihan pasokan di tengah melemahnya permintaan. Premi harga minyak mentah spot dari Timur Tengah bahkan kembali ke level sebelum konflik berlangsung.
Analis pasar minyak Rystad Janiv Shah mengatakan, pasar minyak mulai bergerak menuju kondisi kelebihan pasokan. Namun, perbedaan kualitas minyak dan kendala distribusi masih menjadi persoalan bagi kilang yang berupaya mendapatkan pasokan. Jalur pengiriman yang lebih panjang serta kebutuhan pemindahan minyak antarkapal (ship-to-ship transfer) menjadi alternatif untuk mengatasi hambatan di sekitar Selat Hormuz.
Pasar juga masih menunggu kepastian kesepakatan antara AS dan Iran. Kegagalan mencapai kesepakatan atau munculnya aksi balasan dari kedua pihak berpotensi kembali memperketat keseimbangan pasokan dan permintaan minyak.
Serangan Kapal Tanker
Kekhawatiran terhadap pasokan kembali meningkat setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Teluk dan Selat Hormuz. Pengelola kapal asal Yunani pada Jumat menyatakan seorang pelaut tewas dalam ledakan di kapal tanker produk minyak pada 5 November. Ledakan tersebut diduga disebabkan oleh serangan rudal.
Data badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, juga menunjukkan serangan terhadap kapal pengangkut minyak masih berlangsung mendekati rekor tertinggi.
Selain perkembangan geopolitik, harga minyak turut dipengaruhi laporan ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 165.000 lapangan kerja pada bulan lalu. Data tersebut memicu kekhawatiran bahwa The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga, sehingga berpotensi menekan permintaan energi.
Sebelumnya, harga minyak anjlok sekitar 8% pada Rabu (4/11/2026), setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS meningkatkan optimisme terhadap kemungkinan meredanya konflik Iran. Harga Brent dan WTI saat itu ditutup pada level terendah dalam dua bulan.
Komentar