JAKARTA – Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan signifikan sepanjang pekan ini, anjlok 9%. Perdagangan pada Jumat (6/11/2026) mencatat penurunan mingguan terdalam sejak pertengahan Desember 2024, menekan harga komoditas ini ke level terendah dalam delapan bulan terakhir.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman November 2026 jatuh 77 Ringgit Malaysia, ditutup pada 4.049 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Desember 2026 juga mengalami koreksi tajam, tergerus 132 Ringgit Malaysia menjadi 4.147 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2027 melemah 119 Ringgit Malaysia ke posisi 4.258 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Februari 2027 terpangkas 106 Ringgit Malaysia menjadi 4.356 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Maret 2027 terkoreksi 96 Ringgit Malaysia menjadi 4.437 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak April 2027 turun 90 Ringgit Malaysia ke angka 4.4977 Ringgit Malaysia per ton.
Pelemahan harga minyak kedelai menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga CPO. Kedua komoditas ini bersaing di pasar minyak nabati global, sehingga pergerakan harga minyak kedelai secara langsung memengaruhi permintaan dan daya saing minyak sawit. David Ng, seorang trader di perusahaan perdagangan Iceberg X Sdn Bhd yang berbasis di Kuala Lumpur, menyatakan bahwa pasar CPO bergerak melemah akibat tekanan dari harga minyak kedelai.
Pada perdagangan Jumat, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 1,41%, sementara kontrak minyak sawitnya melemah 2,41%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga terkoreksi 0,53%.
Pelemahan Harga Minyak Mentah Turut Memberatkan CPO
Selain tekanan dari minyak kedelai, pelemahan harga minyak mentah dunia turut membebani pergerakan harga CPO. Harga minyak dunia berada di jalur penurunan mingguan yang tajam setelah kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) memunculkan harapan meredanya konflik antara AS, Israel, dan Iran. Harga minyak mentah yang lebih rendah membuat CPO kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel. Meskipun demikian, serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah masih memberikan sedikit penopang bagi harga minyak.
Di sisi lain, Ringgit Malaysia mengalami pelemahan sebesar 0,3% terhadap dolar AS. Kondisi ini secara relatif membuat komoditas CPO yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut sedikit lebih murah bagi pembeli yang bertransaksi menggunakan mata uang asing, namun faktor-faktor penurunan lainnya lebih dominan menekan harga.
Komentar