Yield SUN Berpotensi Naik, Kapan Waktu Tepat Akumulasi?

Yield Surat Utang Negara (SUN) berpotensi naik di tengah tekanan rupiah. Peluang akumulasi bertahap ditawarkan dengan imbal hasil riil menarik.

Yield SUN Berpotensi Naik, Kapan Waktu Tepat Akumulasi?
Ilustrasi surat utang negara (SUN). (Sumber: Pegadaian)

JAKARTA – Imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) diprediksi masih memiliki potensi untuk meningkat. Kondisi ini dipicu oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan volatilitas pasar keuangan domestik. Meskipun demikian, level yield saat ini mulai menawarkan valuasi yang menarik bagi para investor, terutama untuk melakukan akumulasi secara bertahap.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengamati bahwa minat investor dalam lelang SUN menunjukkan tren penurunan dibandingkan awal tahun. Pada lelang yang digelar 27 Oktober 2026, penawaran yang masuk tercatat hanya mencapai Rp 31,09 triliun. Angka ini merosot tajam dibandingkan Rp 64,9 triliun pada lelang sebelumnya, dan jauh di bawah capaian Rp 90,96 triliun pada lelang perdana di tahun yang sama.

Pemerintah akhirnya menyerap dana sebesar Rp 20,65 triliun, yang mana jumlah ini lebih rendah dari target indikatif sebesar Rp 30 triliun. Namun, kondisi pasar tidak sepenuhnya melemah. Buktinya, lelang sukuk yang dilaksanakan pada 3 November 2026 masih mencatatkan penawaran sebesar Rp 28,56 triliun dengan nilai penyerapan Rp 16,65 triliun, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 10 triliun.

“Pada periode November hingga Desember 2026, penawaran lelang SUN kemungkinan masih akan berada di kisaran moderat. Pemerintah diperkirakan akan lebih selektif dalam menentukan besaran penerbitan karena posisi pembiayaan yang relatif lebih longgar setelah penerbitan pada Oktober,” jelasnya kepada Investor Daily, Minggu (8/11/2026).

Pemerintah juga memiliki sejumlah alternatif pembiayaan lain yang dapat ditempuh. Ini termasuk melalui pengelolaan kas, penempatan langsung, atau menggeser sebagian penerbitan ke awal tahun 2027. Dengan demikian, pemerintah tidak harus memenuhi seluruh kebutuhan pembiayaan hanya melalui lelang reguler.

Tekanan pasar tercermin dari yield SUN dengan tenor 10 tahun yang sempat menyentuh level 7,75%. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir, sebelum akhirnya turun ke kisaran 7,63%.

Yusuf menjelaskan bahwa kenaikan yield kali ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik. Sejak akhir September 2026, yield SBN tenor 10 tahun mengalami kenaikan sekitar 0,60 poin persentase. Padahal, pada periode yang sama, yield US Treasury justru mengalami penurunan sekitar 0,40 poin persentase.

Pelebaran selisih tersebut mengindikasikan bahwa investor meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang surat utang Indonesia. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan volatilitas yang terjadi di pasar saham.

“Dalam jangka pendek, yield SUN diperkirakan akan bertahan di level tinggi dengan volatilitas yang masih cukup besar. Risiko kenaikan yield tetap terbuka selama rupiah belum stabil dan pasar masih memperhitungkan kemungkinan adanya pengetatan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas eksternal,” tambah Yusuf.

Meskipun demikian, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menahan kenaikan yield lebih lanjut. Jatuh tempo Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang diperkirakan mencapai Rp 138 triliun pada November berpotensi dialihkan ke SBN. Selain itu, pasokan lelang SUN biasanya mengalami pengurangan menjelang akhir tahun.

Investor asing juga tercatat masih membukukan pembelian bersih SBN sebesar Rp 28,79 triliun pada triwulan III-2026. Namun, penurunan yield yang lebih signifikan baru berpeluang terjadi apabila nilai tukar rupiah kembali stabil dan kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal pemerintah menguat.

Di tengah tekanan yang terjadi, Yusuf menilai bahwa valuasi SUN saat ini sebenarnya sudah cukup menarik. Dengan yield tenor 10 tahun berada di kisaran 7,6% dan inflasi tercatat sebesar 3,23%, hal ini menghasilkan imbal hasil riil sekitar 4,4%.

Menurutnya, yield di atas 7,5% sudah cukup kompetitif bagi investor domestik, seperti perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun. Namun, bagi investor asing, tingginya yield nominal belum tentu menjadi daya tarik yang cukup. Mereka juga memperhitungkan risiko nilai tukar mata uang.

Selama ekspektasi pelemahan rupiah masih kuat, potensi keuntungan dari yield SUN dapat tergerus oleh risiko kurs. Oleh karena itu, pemerintah disarankan untuk tetap disiplin dalam menentukan tingkat imbal hasil lelang dan tidak memaksakan penyerapan dana dengan biaya yang terlalu mahal.

Strategi Investor

Keputusan pemerintah untuk tidak memenangkan seluruh penawaran yang masuk, termasuk menolak seri SUN dengan yield yang dinilai terlalu tinggi, merupakan langkah yang tepat. Menyerap dana di bawah target dinilai lebih baik daripada mengunci beban bunga yang tinggi selama 10 hingga 20 tahun, terutama ketika kebutuhan pembiayaan jangka pendek masih dapat dikelola melalui instrumen lain.

Yusuf mengingatkan, jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan arus keluar dana asing meningkat, yield SUN pada lelang berikutnya berisiko kembali naik, terutama untuk tenor yang panjang. Dampaknya juga perlu diperhitungkan terhadap anggaran negara.

Setiap penerbitan SUN sebesar Rp 100 triliun dengan yield satu poin persentase lebih tinggi berpotensi menambah beban bunga sekitar Rp 1 triliun per tahun. Untuk tenor 10 tahun, tambahan pembayaran bunga secara sederhana dapat mencapai sekitar Rp 10 triliun selama umur obligasi. Dampak ini terutama berlaku pada penerbitan baru dan pembiayaan kembali utang yang jatuh tempo, bukan langsung terhadap seluruh stok SUN berkupon tetap.

Risiko yang lebih besar muncul apabila kenaikan biaya utang membentuk efek berantai. Peningkatan beban bunga dapat mempersempit ruang fiskal, memperburuk persepsi risiko, dan mendorong investor untuk meminta premi yang lebih tinggi. Pelemahan rupiah juga berpotensi memperbesar nilai pembayaran bunga dan pokok utang dalam valuta asing apabila dihitung dalam rupiah.

Bagi investor jangka menengah dan panjang, yield SUN saat ini sudah menawarkan pendapatan yang menarik. Namun, menentukan titik tertinggi yield masih sulit di tengah ketidakpastian pasar yang ada.

Yusuf menyarankan investor untuk melakukan pembelian secara bertahap agar tetap memiliki ruang untuk menambah posisi apabila yield kembali meningkat. Dalam kondisi saat ini, tenor satu hingga lima tahun dinilai menawarkan keseimbangan yang lebih baik antara imbal hasil dan risiko harga.

Sebagai gambaran, SPN 12 bulan dimenangkan pada yield sekitar 6,66%, sedangkan yield SUN tenor lima tahun berada di kisaran 7,55%. Selisih yield tenor lima tahun dan 10 tahun yang relatif tipis membuat tenor menengah menjadi menarik, terutama karena sensitivitas harganya terhadap perubahan yield lebih rendah dibandingkan obligasi jangka panjang.

Sementara itu, tenor panjang lebih sesuai bagi investor yang memiliki kemampuan menahan volatilitas dan berencana memegang obligasi hingga jatuh tempo. Dari sisi likuiditas, investor juga perlu memperhatikan seri yang aktif diperdagangkan, seperti FR0110 dan FR0111, sehingga lebih mudah diperjualbelikan di pasar sekunder.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *