Penjualan Properti Residensial Triwulan III-2026 Anjlok 8,43% YoY

Penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan III-2026 mengalami kontraksi 8,43% year on year (yoy). Penurunan terjadi di seluruh tipe rumah.

Penjualan Properti Residensial Triwulan III-2026 Anjlok 8,43% YoY
Foto udara susana perumahan di Pinang Merah, Alam Barajo, Jambi. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Pasar properti residensial di Indonesia menunjukkan pelemahan signifikan pada triwulan III-2026. Data dari Bank Indonesia (BI) melalui Survei Harga Properti Residensial (SHPR) mencatat adanya kontraksi pertumbuhan penjualan sebesar 8,43% secara tahunan (year on year/yoy). Penurunan ini terjadi di seluruh segmen tipe rumah, menandakan lesunya permintaan di pasar primer.

Direktur Eksekutif BI, Ramdan Denny Prakoso, mengonfirmasi temuan survei tersebut. “Dari sisi penjualan, hasil survei mengindikasikan penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan III-2026 menurun di seluruh tipe rumah. Secara keseluruhan, penjualan properti residensial di pasar primer masih terkontraksi sebesar 8,43% yoy,” ungkap Ramdan dalam keterangannya, Minggu (8/11/2026).

Angka kontraksi ini lebih dalam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (II-2026), yang hanya mengalami kontraksi 2,36% yoy. Pada triwulan III-2026, rumah tipe besar mencatat kontraksi sebesar 10,78% yoy, berbalik arah dari pertumbuhan positif 13,08% yoy pada periode sebelumnya. Sementara itu, penjualan rumah tipe kecil dan menengah juga terkontraksi lebih dalam, masing-masing menjadi 4,95% yoy dan 15,42% yoy. Angka ini lebih buruk dibandingkan kontraksi triwulan II-2026 yang berada di kisaran 2,88% yoy untuk tipe kecil dan 10,51% yoy untuk tipe menengah.

Jika dilihat secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), penjualan rumah pada triwulan III-2026 terkontraksi 11,10% dari pertumbuhan 9,39% pada triwulan II-2026. Penurunan ini terutama didorong oleh penjualan rumah tipe kecil dan besar yang masing-masing terkontraksi 7,67% qtq dan 31,75% qtq. Padahal, pada triwulan sebelumnya, kedua tipe ini masih mencatat pertumbuhan positif, yakni 30,33% qtq untuk tipe kecil dan 24,41% qtq untuk tipe besar. Penjualan rumah tipe menengah pun masih terkontraksi 4,55% qtq, meskipun sedikit membaik dibandingkan kontraksi 8,59% qtq pada triwulan sebelumnya.

Tantangan utama yang dihadapi pengembang dan penjual properti residensial di pasar primer meliputi kenaikan harga bahan bangunan yang mencapai 26,24%, masalah perizinan dan birokrasi sebesar 17,17%, serta suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang sebesar 15,71%. Faktor lain yang turut membebani adalah isu perpajakan (10,54%) dan proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR (10,05%). Meskipun demikian, suku bunga KPR dilaporkan relatif stabil dibandingkan triwulan II-2026, yang tercatat di angka 7,47%.

Di sisi lain, pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer tercatat melambat. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan III-2026 berada di angka 111,02, dengan pertumbuhan 0,58% yoy. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan II-2026 yang mencatat pertumbuhan 0,69% yoy.

Perlambatan pertumbuhan harga ini terutama dipengaruhi oleh melambatnya kenaikan harga pada rumah tipe menengah dan besar. Masing-masing tipe mencatat indeks 114,15 dan 108,50, dengan pertumbuhan melambat menjadi 0,63% yoy dan 0,57% yoy, dari periode sebelumnya yang tumbuh 0,83% yoy dan 0,68% yoy. Namun, harga rumah tipe kecil justru menunjukkan peningkatan, dengan indeks 114,14 dan pertumbuhan 0,55% yoy, lebih tinggi dibandingkan triwulan II-2026 yang tumbuh 0,49% yoy.

Mengenai sumber pendanaan, mayoritas pengembang masih mengandalkan dana internal perusahaan untuk pembangunan properti residensial, dengan pangsa mencapai 73,94% dari total kebutuhan pembiayaan. Pinjaman dari perbankan menyumbang 17,98%, sementara pembayaran dari konsumen hanya sebesar 8,08%.

Dari sisi konsumen, skema pembelian rumah di pasar primer masih didominasi oleh KPR, yang mencakup 70,68% dari total skema pembelian. Pembelian secara tunai bertahap dan tunai masing-masing memiliki pangsa 20,96% dan 8,37%.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *