Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau terkoreksi signifikan 98,87 poin atau 1,97% ke level 4.931 pada sesi pertama perdagangan Kamis (5/11/2026). Pelemahan ini dipicu oleh tekanan dari bursa global, terutama aksi jual saham di sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang terjadi di Wall Street.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas mencermati bahwa pelemahan bursa regional Asia sejalan dengan tren koreksi di pasar Amerika Serikat. Aksi jual saham teknologi semakin intensif pasca kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Kemenangan ini memunculkan kekhawatiran akan potensi pengetatan regulasi terhadap industri AI serta kemungkinan perlambatan ekspansi pusat data.
Sentimen negatif ini menguat setelah Senator AS dari Partai Demokrat, Bernie Sanders, mendesak adanya moratorium nasional untuk pembangunan pusat data. Tujuannya adalah untuk melindungi lingkungan, lapangan pekerjaan, dan masa depan masyarakat dari dominasi perusahaan teknologi besar (Big Tech). Selain itu, beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS dari Partai Demokrat juga mendorong penghentian sementara pengembangan AI sebagai salah satu prioritas utama.
Di samping sentimen terkait teknologi, Pilarmas juga menyoroti pelaku pasar yang terus mencermati perkembangan ketegangan di Timur Tengah. Situasi ini turut memicu kenaikan harga minyak mentah, menyusul serangkaian serangan terhadap kapal-kapal tanker di kawasan Teluk. Peristiwa ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pada distribusi minyak global.
Dari sisi domestik, Pilarmas menyatakan bahwa tekanan pasar global diikuti oleh kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Hal ini diperparah oleh tingginya harga minyak dunia, arus keluar modal asing yang berkelanjutan, serta volatilitas nilai tukar rupiah.
Meskipun demikian, sejumlah indikator ekonomi domestik memberikan harapan bagi pasar. Pilarmas menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 yang dilaporkan lebih kuat dari perkiraan, serta posisi cadangan devisa yang tetap terjaga, diharapkan dapat menjadi katalis positif untuk menahan pelemahan IHSG lebih dalam.
Bank Indonesia mencatat bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 mencapai US$146,8 miliar. Angka ini relatif stabil dibandingkan dengan posisi akhir September 2026 yang tercatat sebesar US$146,3 miliar.
Pada sesi pertama perdagangan, saham-saham yang mencatatkan kenaikan terbesar meliputi NASI, ENAK, AIMS, KOCI, dan AISA. Sebaliknya, saham LAPD, CBRE, BTEK, TRUE, dan TAXI menjadi saham dengan penurunan terbesar.
Di tengah tekanan pasar, Pilarmas merekomendasikan strategi beli (buy) untuk saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Saham INCO memiliki level support di 3.100 dan resistance di 3.500.
Komentar