JAKARTA – Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan diprediksi masih akan menghadapi tekanan hingga akhir kuartal IV-2026. Beberapa faktor utama yang membebani margin perbankan meliputi ketergantungan pada pendanaan yang berbiaya mahal, perlambatan pertumbuhan kredit, serta terbatasnya pertumbuhan simpanan ritel.
Proyeksi ini disampaikan oleh IFG Progress dalam laporan Macroeconomic Monitor October 2026. Laporan tersebut mencatat bahwa pertumbuhan kredit perbankan melambat menjadi 13,3% secara tahunan (year on year/yoy) pada September 2026, turun dari 13,7% pada Agustus 2026. Sementara itu, pertumbuhan simpanan tercatat sebesar 8,2%, menciptakan selisih pertumbuhan sekitar 5 poin persentase.
Di sisi lain, kondisi likuiditas perbankan menunjukkan perbaikan. Rasio aset likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) meningkat menjadi 24,1% pada September 2026, naik dari 23% pada bulan sebelumnya. Namun, komposisi pendanaan tetap menjadi perhatian.
“Simpanan korporasi terus menjadi pendorong utama pertumbuhan simpanan, sementara simpanan perorangan hanya tumbuh 3,6% yoy,” ungkap IFG Progress. Terbatasnya pertumbuhan simpanan ritel ini menghambat kemampuan bank dalam menekan biaya pendanaan. Situasi ini khususnya menjadi perhatian bagi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dinilai memiliki posisi yang lebih kuat berkat basis dana murah atau current account and savings account (CASA) yang lebih kokoh. Meskipun penyaluran kredit masih tumbuh sehat, ketergantungan pada sumber pendanaan berbiaya tinggi terus membebani NIM perbankan.
“Kami memperkirakan tekanan terhadap margin akan berlanjut hingga kuartal IV-2026 seiring dengan melambatnya pertumbuhan kredit,” beber IFG Progress. Perbaikan likuiditas memang memberikan sedikit ruang, namun bank tetap perlu memperkuat komposisi simpanan untuk menekan biaya pendanaan.
IFG Progress menyoroti bahwa PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) masih sangat rentan terhadap tekanan pendanaan. Selain itu, peningkatan kredit kategori 2 hingga Agustus 2026 mengindikasikan potensi kenaikan biaya kredit, meskipun hal ini perlu dikonfirmasi lebih lanjut melalui data klasifikasi kredit yang mendasarinya.
“Indikator utama yang perlu dipantau meliputi pertumbuhan CASA, tingkat ketergantungan pada deposito berjangka, kualitas aset, serta sejauh mana pertumbuhan kredit mampu memberikan kontribusi terhadap laba,” tandas IFG Progress. Tekanan terhadap margin perbankan ini juga tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
NIM perbankan tercatat turun ke level 4,31% pada Agustus 2026, level terendah dalam tujuh tahun terakhir, setara dengan posisi Maret 2020 saat pandemi Covid-19 mulai melanda. Tekanan terhadap NIM diperkirakan masih berlanjut karena semakin tipisnya selisih antara suku bunga kredit dan suku bunga deposito atau spread bunga perbankan.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan spread bunga perbankan menyusut menjadi 3,60% pada September, dari 4,50% pada April sebelum BI-Rate mulai naik. Penyempitan selisih suku bunga ini berpotensi semakin menekan NIM dan memengaruhi tingkat profitabilitas perbankan.
Komentar