Indonesia Gandeng China Tingkatkan Produksi Bawang Putih Nasional

Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama dengan China untuk pengembangan bawang putih di lahan 120 ribu hektare guna mencapai swasembada dan mengurangi ketergantungan impor.

Indonesia Gandeng China Tingkatkan Produksi Bawang Putih Nasional
Pedagang memilah bawah putih impor di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Langkah pemerintah Indonesia untuk mencapai swasembada bawang putih mulai menunjukkan kemajuan signifikan. Rencananya, pengembangan komoditas ini akan dilakukan di lahan seluas 120 ribu hektare melalui kerja sama dengan China. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi bawang putih unggul, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan pada impor yang selama ini memenuhi kebutuhan domestik.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa kerja sama ini telah dibahas bersama Menteri Pertanian China Zhang Zhu saat kunjungan ke Beijing. Fokus kolaborasi kedua negara adalah penguatan ketahanan pangan, mencakup penyediaan benih unggul dan pengembangan budidaya bawang putih di Indonesia.

“Kami baru pulang dari Beijing, ketemu Menteri Pertanian China, diskusi panjang lebar. Kita akan kerja sama ke depan memperkuat pangan, karena dunia lagi krisis pangan,” ujar Amran di Jakarta, Minggu (8/11/2026), seperti dikutip dari Antara.

Amran menjelaskan bahwa kerja sama dengan China merupakan langkah strategis untuk memperkuat produksi bawang putih nasional. Tahap awal, China akan memasok benih bawang putih, sementara pemerintah Indonesia akan menyiapkan tindak lanjut teknis untuk memastikan program berjalan berkelanjutan. Targetnya, produksi bawang putih tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik dan China, tetapi juga mampu menembus pasar ekspor global.

Pemerintah merencanakan pengembangan sentra bawang putih di sejumlah wilayah yang memiliki kondisi agroklimat sesuai, seperti Sembalun, Temanggung, dan beberapa daerah di Sumatra. Keseluruhan luas pengembangan ditargetkan mencapai 120 ribu hektare sebagai bagian dari strategi swasembada dan pengurangan ketergantungan impor.

“Luas pengembangannya 120 ribu hektare,” tegas Amran. Pelaksanaan kerja sama ini akan dikoordinasikan oleh Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa dan Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet untuk memastikan efektivitas seluruh tahapan, mulai dari penyediaan benih hingga budidaya di lapangan.

Perhatian pemerintah terhadap pengembangan bawang putih dalam negeri muncul di tengah tingginya ketergantungan pada pasokan luar negeri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor bawang putih Indonesia (kode HS 07032090) mencapai US$ 431,05 juta pada Januari-September 2026, meningkat 18,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan besarnya kebutuhan domestik yang dipenuhi dari impor.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2024 menyatakan bahwa sekitar 95% kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi melalui impor. Preferensi konsumen Indonesia terhadap bawang putih impor yang berukuran lebih besar dan harganya relatif lebih murah menjadi salah satu faktornya. Ketergantungan ini bukan semata-mata karena ketidakmampuan petani lokal, melainkan juga akibat keterbatasan akses terhadap benih unggul yang dapat meningkatkan produktivitas.

Oleh karena itu, penyediaan benih berkualitas melalui kerja sama dengan China diharapkan dapat meningkatkan kemampuan produksi petani dan daya saing bawang putih lokal. Namun, peningkatan produksi ini perlu diimbangi dengan pengelolaan pasokan dan stabilitas harga. Pemerintah perlu memastikan hasil panen petani terserap pasar dengan harga yang wajar agar peningkatan produksi tidak menyebabkan anjloknya harga di tingkat petani.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *