|
Streaming Radio Suara Landak

Banyak Aturan dan Tes, Olimpiade Tokyo Bakal Kurang Seru

Seorang pria berjalan melewati cincin Olimpiade di Tokyo, Senin, 7 Juni 2021. (Foto: AP/Koji Sasahara)

Suara Landak
- Dilansir dari VOA, Olimpiade Tokyo, yang sudah tertunda karena pandemi, tampaknya bakal kurang seru. Namun, bukan bagi para atlet, para penggemar dan bukan untuk masyarakat Jepang.  

Mereka terjebak di satu sisi antara kekhawatiran tentang virus corona karena baru sedikit yang mendapat vaksinasi dan para politisi yang berharap bisa menyelamatkan muka dengan tetap menyelenggarakan pesta olahraga itu dan Komite Olimpide Internasional dengan miliaran dolar yang dipertaruhkan, di sisi lainnya. 

Jepang dikenal karena menjalankan konsensus. Namun, keputusan untuk terus menjadi tuan rumah Olimpiade – dan mengizinkan beberapa penggemar minggu ini, meski hanya penduduk setempat – telah memecah konsensus itu. 

“Kami telah terpojok ke dalam situasi di mana kami bahkan tidak bisa berhenti sekarang. Kami menghadapi situasi bak buah simalakama,” kata Kaori Yamaguchi, anggota Komite Olimpiade Jepang dan peraih medali perunggu di judo pada 1988, menulis dalam editorial baru-baru ini yang diterbitkan oleh kantor berita Kyodo.  

“IOC juga tampaknya berpikir bahwa opini publik di Jepang tidak penting.” 

Dukungan untuk melanjutkan tampaknya meningkat, tetapi ada oposisi terus-menerus dengan demo kecil yang direncanakan pada Rabu (23/6/2021), satu bulan sebelum pembukaan 23 Juli. Sebagian besar kekhawatiran itu berasal dari keraguan tentang risiko kesehatan. Walaupun jumlah kasus baru telah berkurang di Tokyo, baru sekitar 7 persen orang Jepang yang telah divaksinasi dosis penuh. Dan meskipun pemerintah sekarang menggenjot upaya vaksinasinya setelah lambat pada awal, sebagian besar populasi penduduk Jepang masih belum diimunisasi ketika Olimpiade dimulai.  

Itu membuat IOC dan pemerintah Jepang mengalami kesulitan untuk melakukan ini.  

Dr. Shigeru Omi, penasihat utama pemerintah untuk COVID-19, menyebutnya mengadakan pesta olahraga terbesar di dunia selama pandemi adalah “tidak normal.” Dia juga mengatakan Olimpiade paling aman adalah tanpa dihadiri penggemar. 

Dia ditolak baik oleh pemerintah Perdana Menteri Yoshihide Suga dan penyelenggara. 

Biaya resmi Olimpiade Tokyo adalah $15,4 miliar, tetapi audit pemerintah menunjukkan dua kali lipatnya. Semua kecuali sekitar $6,7 miliar adalah uang masyarakat. IOC hanya urunan sekitar $1,5 miliar dari biaya keseluruhan. 

Tekanan untuk mengadakan pertandingan sebagian besar bersifat finansial untuk IOC yang berbasis di Swiss, sebuah badan nirlaba tetapi sangat komersial yang menangguk 91 persen dari pendapatannya dari hak siar dan sponsor. Perkiraan menunjukkan pembatalan bisa mengakibatkan kerugian $3 miliar hingga $4 miliar dalam pendapatan hak siar. 

Selain masalah keuangan, penyelenggaraan Olimpiade yang sukses juga merupakan sumber kebanggaan utama bagi negara tuan rumah. Beberapa ekonom membandingkannya dengan mengadakan pesta besar. Anda jor-joran membelanjakan uang, tetapi berharap tamu Anda pulang dari pesta dengan memuji-muji keramahan. 

Sebelum penundaan 15 bulan yang lalu, Jepang bakal berhasil menjadi tuan rumah Olimpiade yang berjalan dengan baik meski mahal. Jepang memiliki Stadion Nasional baru yang indah rancangan arsitek Kengo Kuma, pengaturan yang cermat, dan panggung megah untuk negara yang menggelar pertandingan bersejarah pada 1964 atau hanya 19 tahun setelah kekalahan dalam Perang Dunia II. Presiden IOC Thomas Bach menyebut Tokyo sebagai "Olimpiade dengan persiapan terbaik yang pernah ada" - dan dia masih mengatakannya berulang kali. 

Namun kini, kekhawatiran bahwa acara multicabang olahraga itu akan menjadi inkubator virus menghantui mereka. Untuk saat ini, rata-rata jumlah kematian dan kasus telah stabil di Jepang. Negara itu telah mencatat lebih dari 14 ribu kematian – baik menurut standar global, tetapi lebih buruk daripada banyak negara tetangga di Asia. 

Meski pertandingan olahraga masih akan memukau penonton televisi di selurh dunia, pandemi telah menghilangkan keseruan merayakan gelaran itu. Para atlet harus tinggal di permukiman atlet atau tempat pertandingan. Sebagian besar tamu yang ke Jepang untuk Olimpiade hanya dapat berpindah-pindah antara hotel dan lokasi pertandingan mereka selama 14 hari pertama, harus menandatangani perjanjian untuk mengikuti aturan, dan pergerakan mereka dapat dipantau oleh GPS. 

Tidak akan ada area untuk penonton umum di Tokyo. Beberapa penggemar yang dapat menghadiri venue harus mengenakan masker, menjaga jarak sosial, tidak bersorak-sorai, dan langsung pulang setelah menyaksikan pertandingan. Tidak boleh mendatangani izakaya atau bar untuk minum bir dan makan sate ayam. 

Mungkin dalam upaya terakhir untuk menyelamatkan semangat perayaan, penyelenggara mengatakan Selasa (22/6/2021), bahwa mereka sedang mempertimbangkan untuk membolehkan penjualan minuman beralkohol di lokasi pertandingan. 

Menteri Olimpiade Tamayo Marukawa memberi sinyal hal itu mungkin karena alasan keuangan. Produsen bir Jepang, Asahi, adalah salah satu sponsor dan telah menggelontorkan jutaan yen untuk anggaran operasional lokal. 

Namun, setelah ada penolakan, Presiden komite penyelenggara, Seiko Hashimoto, membatalkan keputusan itu pada konferensi pers hari Rabu (23/6/2021). 

"Kami memutuskan sebagai Tokyo 2020 untuk tidak menjual minuman beralkohol dan melarang minum minuman beralkohol di venue," katanya. 

Dan atlet yang mungkin ingin minum untuk merayakan telah diberitahu oleh penyelenggara untuk "minum sendiri" di kamar mereka. 

Alkohol dilarang di desa atlet. 

Detail upacara pembukaan selalu dirahasiakan. Namun, kali ini pertanyaannya bukan tentang siapa selebritas yang menyalakan kaldron Olimpiade, melainkan apakah atlet akan menjaga jarak dan mengenakan topeng saat mereka berpawai melintasi tempat upacara? Dan berapa banyak yang akan berbaris?

Sumber : VOA

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini