Ngabang (Suara Landak) – Bupati Landak Karolin Margret Natasa menekankan pentingnya dukungan ketersediaan air serta penataan teknis lahan dalam pengembangan sawah rakyat di Desa Temiang Sawi, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Rabu (8/4/2026)..jpeg)
Bupati Landak Karolin Margret Natasa saat tanam padi di sawah
Penegasan tersebut disampaikan Karolin saat menghadiri kegiatan tanam perdana padi pada program Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025 milik Kelompok Tani Semata Tani Andalan di Beguruh, Dusun Semata. Kegiatan ini turut dihadiri unsur pemerintah, penyuluh pertanian, serta para petani setempat.
“Sawah itu harus ada air, airnya harus bisa diatur. Kalau enggak bisa diatur, pasti panennya gagal,” tegas Karolin.
Ia menjelaskan, keberhasilan program pertanian tidak cukup hanya mengandalkan semangat petani dalam menanam, tetapi juga harus didukung aspek teknis yang memadai, seperti sistem irigasi, pengelolaan air, serta infrastruktur penunjang di lapangan. Karolin berharap koordinasi lintas sektor dapat diperkuat agar lahan sawah yang telah dicetak benar-benar produktif.
Menurutnya, jika sektor pertanian di wilayah tersebut berkembang optimal, hal itu tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
“Mudah-mudahan kalau pertanian di sini sukses, yang sudah keluar pindah ke kota, bisa masuk dan pindah lagi ke kampung. Di kota itu enak belanja, tapi nyari duit nggak segampang itu,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Karolin juga meminta pemerintah desa dan kecamatan untuk melakukan pendataan ulang terhadap kelompok tani. Hal ini dinilai penting agar bantuan pertanian, termasuk alat dan sarana produksi, tepat sasaran kepada kelompok yang benar-benar aktif.
“Tolong didata mana kelompok tani yang masih aktif dan mana yang tidak. Kalau ada yang perlu digabung supaya lebih efektif, silakan digabung,” katanya.
Ia mengingatkan agar data kelompok tani tidak hanya bersifat administratif, melainkan mencerminkan kondisi riil di lapangan. Dengan begitu, bantuan pemerintah dapat langsung mendukung peningkatan produktivitas.
Selain itu, Karolin juga mendorong petani untuk mulai membiasakan diri mendokumentasikan kondisi lahan, baik saat hujan deras maupun saat air surut. Dokumentasi tersebut dinilai dapat membantu tenaga teknis dalam menganalisis persoalan secara lebih akurat.
“Kalau perlu, dokumentasikan pakai foto atau video. Jadi saat tenaga teknis datang, bisa ditunjukkan kondisi sebenarnya,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Kalbar, Anjar Suprapto menyampaikan bahwa tanam perdana dilakukan di lahan seluas 16 hektare dari total 107,9 hektare program CSR di Kabupaten Landak. Ia menegaskan pentingnya percepatan penanaman agar lahan tidak kembali ditumbuhi gulma.
Pada kesempatan yang sama, Karolin juga mengapresiasi semangat Ketua Kelompok Tani Semata Tani Andalan, Nikolaus Supin, yang terus menggerakkan petani meski memiliki keterbatasan fisik.
“Saya mengenal Pak Supin sudah lama dan mengagumi semangatnya berkarya untuk kampung, gereja, dan masyarakat. Beliau punya keterbatasan tapi tidak menyerah. Jadi, jangan kalah semangat,” kata Karolin.
Sementara itu, Supin mengungkapkan bahwa pengembangan lahan sawah tersebut tidak diperoleh dengan mudah. Ia menyebut telah menggelar hampir 10 kali rapat yang dibiayai secara pribadi. Bahkan, pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta kebutuhan konsumsi kegiatan juga dilakukan secara swadaya bersama warga.
“Rapat hampir 10 kali saya biayai sendiri. Alsintan saya bawa dengan biaya pribadi, tidak membebani petani. Bahkan untuk konsumsi, warga urunan Rp50 ribu per kepala keluarga,” ungkapnya. [kun/r]