|
Streaming Radio Suara Landak

Ternak Lebah Tawarkan Solusi Krisis Iklim bagi Perkotaan

Peternak lebah Andrew Cote membuang kawanan besar lebah yang dia pindahkan dari sebuah gedung di Times Square ke sarang baru di Bryant Park di New York, AS, 27 Juni 2017. (Foto: REUTERS/Lucas Jackson)

Suara Landak
- Dilansir dari VOA, masyarakat perkotaan semakin banyak beternak lebah. Jan Day mulai beternak lebah di Washington DC sejak delapan tahun lalu. Berawal dari satu sarang lebah di teras rumah, Jan kini memiliki 22 sarang yang tersebar di Washington DC. Ia bergabung dengan klub peternak lebah, DC Beekeper.

Bersama klub itu, Jan turut mengedukasi masyarakat agar peduli pada lebah, tanaman dan lingkungan. Kerjasama juga dilakukan DC Beekeeper dengan pemerintah kota yang meregulasi lisensi bagi sekitar 500 sarang lebah yang terdaftar di Washington DC.

“Sebagai imbalannya, mereka memberitahukan berbagai jenis rencana penyemprotan pestisida atau adanya penyakit lebah madu yang harus diwaspadai,” kata Jan Day.

Sebagian besar sarang lebah itu ada di kuburan bersejarah, seluas tiga puluh empat hektar. Congressional Cemetery kemudian menjual madu yang dihasilkan dari 30 sarang lebah yang dipelihara 12 peternak lebah di sana. Dana yang terkumpul dari kerjasama hampir sepuluh tahun itu digunakan untuk restorasi kuburan yang berdiri sejak tahun 1800-an.

“Kami tanya apakah boleh memelihara sarang lebah dan memanfaatkan semua pohon dan bunga yang bermekaran di pemakaman itu. Sebagai imbalan, madu yang dihasilkan akan disumbangkan kepada pengurus Congressional Cemetery,” jelasnya.

Cuaca yang bersahabat selama tiga tahun terakhir, Jan menguraikan, meningkatkan hasil panen madu tahun lalu, mencapai 1134 kilogram. Madu yang dihasilkan anggota klub, 150 peternak lebah, itu dapat dijual melalui koperasi DCB Honey di mana sebagian hasil penjualan disumbangkan untuk membeli perlengkapan alat beternak lebah.

Dalam 30 tahun ini, anggota DC Beekeeper mencatat jenis dan waktu mekar tanaman yang berbunga tiga atau empat minggu lebih awal dari biasanya. Jan khawatir dengan populasi lebah yang berkembang tidak selaras dengan alam.

“Itu berarti koloni lebah lebih sulit mendapatkan pakan tanaman yang cukup dan tetap sehat karena populasinya berkembang tidak selaras dengan pakan yang tersedia,” imbuh Jan Dai.

Kekhawatiran yang sama juga dikemukakan Mahani, pemerhati lebah perkotaan di Indonesia. Ia berpandangan bumi semakin terasa panas akibat perubahan lansekap di perkotaan yang dipenuhi gedung dan bangunan, sementara hutan menyusut karena deforestasi di berbagai negara termasuk Indonesia.

“Dari situ saya kemudian timbul ide, bagaimana agar bumi kita tetap hijau tapi kemudian kita sebagai umat manusia tetap mendapatkan manfaat ekonomi. Artinya kita harus kembangkan green economy,” kata Mahani, Dosen Unpad pemerhati lebah perkotaan.

Upaya green economy di perkotaan dapat dilakukan dengan budidaya spesies lebah tanpa sengat di mana iklim tropis Indonesia sedikitnya memiliki 45 spesies. Salah satu bibit yang dikembangkan di perkotaan adalah spesies tetragonula biroi yang membantu polinasi sehingga tanaman tumbuh normal.

“Kita kembangkan salah satu spesies yang kita anggap unggul. Namanya spesies tetragonula biroi, sangat cocok dikembangkan di perkotaan,” imbuhnya.

Beternak lebah tanpa sengat dulu dipandang sebelah mata. Mahani menilai itu dikarenakan produktivitas madunya relatif lebih rendah. Berbagai kajian dan studi menjelaskan bahwa lebah tanpa sengat, meski madunya lebih sedikit, khasiatnya lebih baik dibandingkan madu dari lebah yang bersengat.

Beternak lebah di perkotaan juga semakin populer di Indonesia. Koloni bibit lebah yang dapat dijual dan madu yang dihasilkan, rata-rata 1 kilogram untuk satu kotak sarang lebah per 3 bulan. Secara ekonomi, Mahani mengungkapkan, kalangan ekonomi menengah ke bawah dapat mengubah hobi beternak lebah itu menjadi usaha sampingan. Sementara bagi kalangan ekonomi atas, dosen Teknologi Pangan itu menjelaskan.

“Akan lebih mudah untuk kita gugah kesadarannya adalah dari aspek yang lebih makro, akan perubahan global yang sekarang terjadi, pemanasan global dan sebagainya,” lanjut Mahani.

Kepada VOA, Mahani menguraikan bahwa lebah tanpa sengat sudah mulai dilirik oleh para peneliti mulai tahun 2000-an, kemudian diperkenalkan dan menggugah animo masyarakat untuk budidaya lebah sekitar tahun 2016. Kelompok tani Karya Mandiri Bersama (KMB) bekerjasama dengan Dinas Kehutanan DKI Jakarta memanfaatkan hutan kota di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kelompok peternak lebah itu mendapatkan bantuan sembilan kotak sarang lebah bagi 27 anggota yang sebagian terkena PHK di tengah pandemi virus corona. Lima tahapan bantuan yang dimulai tahun 2000 itu merupakan bagian dari kegiatan CSR (corporate social responsibility) salah satu bank pertanian di Jakarta di mana pada tahun kedua KMB memperoleh pelatihan budidaya lebah tanpa sengat.

Daryono, salah seorang peternak lebah perkotaan sekaligus Sekretaris Kelompok KMB mengemukakan, “Untuk tahun ketiga rencana pelatihan tentang bagaimana cara budidaya atau panen lebah. Tahun empat bagaimana cara produksinya dan tahun kelima bagaimana cara pemasarannya.”

Di tengah pandemi COVID-19, para peternak lebah di Ciganjur itu bergiliran mengontrol pakan tanaman mulai dari bunga matahari, tanaman air mata pengantin, pohon mangga dan buah-buahan lain sambil menghabiskan waktu rekreasi di hutan kota bersama keluarga dengan menerapkan protokol kesehatan. Setelah dua tahun, anggota KMB itu berfokus pada pembibitan dan memperbanyak koloni lebah tak bersengat.

Soni, ketua Karya Mandiri Bersama mengungkapkan usaha bersama itu telah menghasilkan 30 kotak sarang dengan sekitar 3000-5000 ekor lebah per kotak, yang dipencar di hutan kota Jagakarsa.

Kelompok peternak lebah perkotaan di Jakarta Selatan itu berencana memberdayakan masyarakat sekitar agar dapat beternak lebah di perkotaan dan di lingkungan perumahan masing-masing.

Di Washington DC, harapan yang sama juga diungkapkan Jan Day agar lebih banyak orang beternak lebah. “Cari peternak lebah terdekat di sekitar Anda, berbicaralah dengan mereka, belajar budidaya lebah dari tangan mereka, kunjungi sarang bersama peternak lebah dan belajarlah dari pengalaman mereka.”

Dari Bogor, Mahani mengkhawatirkan populasi lebah yang terus menyusut karena sensitif terhadap ketersediaan tanaman pakan yang semakin terdesak oleh permukiman, industri, pariwisata dan aktivitas manusia lainnya. Ia menambahkan animo masyarakat beternak lebah tanpa sengat baik di perkotaan, pinggiran kota maupun pedesaan menyedot kebutuhan bibit yang masih diambil dari alam.

“Akhirnya koloni yang bermigrasi dari alam, dari hutan ke pedesaan atau perkotaan, itu bukan survive tetapi kemudian banyak yang mati.” 

Sumber : VOA

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini