Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong hilirisasi tiga komoditas unggulan perkebunan, yaitu sawit, kakao, dan kelapa. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut serta memperkuat daya saingnya di pasar ekspor.
Sawit memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan industri pangan, oleokimia, kosmetik, dan biofuel. Sementara itu, kakao dan kelapa menyimpan potensi luar biasa untuk diolah menjadi produk industri bernilai tambah tinggi.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, mengungkapkan bahwa mandat BPDP telah diperluas. Sebelumnya hanya fokus pada sawit, kini BPDP juga mengampu komoditas kakao dan kelapa. Kebijakan ini didasarkan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 132 Tahun 2024.
Perluasan mandat BPDP ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi agribisnis nasional. Tujuannya adalah memastikan manfaat pengelolaan sumber daya perkebunan dirasakan langsung oleh petani. “Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah ketahanan ekonomi nasional harus berujung pada kesejahteraan petani,” ujar Dradjad saat International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExPO) 2026 di Jakarta.
Dukungan BPDP untuk kakao dan kelapa mencakup program peremajaan kebun (replanting), peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penyediaan sarana dan prasarana hulu, penguatan kelembagaan petani, serta pendampingan teknis. Dengan demikian, pengembangan komoditas perkebunan diharapkan dapat terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Contohnya, hilirisasi sawit terus dipacu melalui pelaksanaan mandatory biodiesel B50 yang telah berlaku sejak Juli 2026. Untuk komoditas kakao dan kelapa, pengembangan industri difokuskan pada modernisasi infrastruktur pascapanen, digitalisasi rantai pasok, serta perluasan ekspor produk turunan bernilai tambah tinggi.
Pemerintah juga berupaya memperkuat transparansi perdagangan komoditas strategis melalui integrasi ekspor satu pintu oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan ini, yang berlaku berdasarkan PP No 24 Tahun 2026 sejak 1 Juni 2026, diarahkan untuk menekan praktik under-invoicing dan transfer-pricing, serta mengoptimalkan penerimaan devisa negara.
Dari sisi keberlanjutan, pemerintah mendorong penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), penguatan sistem ketertelusuran (traceability), dan pemetaan lahan perkebunan. Upaya ini penting untuk meningkatkan penerimaan pasar global terhadap produk perkebunan Indonesia.
Wakil Menteri Pertanian, Alim Setiawan Slamet, saat mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka ICExPO 2026 pada 4 November 2026, menekankan pentingnya riset, teknologi, dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas perkebunan nasional. Konsistensi penyelenggaraan ICExPO hingga tahun kesembilan menunjukkan pentingnya forum tersebut dalam mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan demi memajukan sektor sawit, kakao, dan kelapa.
Alim mengingatkan bahwa industri perkebunan masih menghadapi tantangan produktivitas yang cenderung stagnan, bahkan menurun. Produktivitas sawit nasional yang mencapai hampir 4 ton per hektare (ha) pada 2019, turun menjadi 3,6 ton per ha di 2025. Di perkebunan rakyat, produktivitas bahkan hanya sekitar 2-3 ton CPO (minyak sawit mentah) per ha, padahal potensinya mencapai 4-6 ton CPO per ha.
Kondisi ini dipengaruhi oleh penggunaan agroinput yang belum optimal, tanaman yang sudah tua, serta masih banyaknya pekebun rakyat yang menggunakan benih tidak bersertifikat. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian mendorong pengembangan varietas unggul, teknologi budi daya presisi, mekanisasi, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Inovasi juga harus diarahkan untuk memperluas pengolahan produk hilir.
Kelapa, misalnya, dapat diolah menjadi minyak kelapa, virgin coconut oil (VCO), santan, air kelapa, coco-fiber, coco-peat, arang aktif, dan pakan. “Teknologi dan inovasi harus mengubah keunggulan itu semuanya untuk bisa menjadi keunggulan yang kompetitif,” kata Alim.
Topang Ketahanan Nasional
Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas, Purnomo Yusgiantoro, menyampaikan perspektif strategis masa depan industri perkebunan. Menurutnya, sektor perkebunan memiliki posisi penting dalam memperkuat ketahanan nasional dan mewujudkan Indonesia Emas 2045. Sawit, kakao, dan kelapa tidak hanya sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga berperan menopang ketahanan pangan, kemandirian energi, serta pertumbuhan ekonomi nasional.
Purnomo juga menekankan pentingnya penguatan aliansi minyak sawit dan sertifikasi keberlanjutan untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional. Kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan untuk meningkatkan penerapan standar keberlanjutan, memperkuat ketertelusuran produk, serta menjaga kepercayaan pasar global terhadap minyak sawit Indonesia.
Pengembangan industri perkebunan harus diarahkan pada hilirisasi demi memacu nilai tambah dan daya saing produk nasional. Sawit berpeluang dalam pengembangan industri pangan, oleokimia, kosmetik, dan biofuel, sedangkan kakao dan kelapa menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk industri bernilai tambah tinggi.
Purnomo menggarisbawahi tiga prinsip pembangunan perkebunan: Growth, Equity, dan Human Resource Development. Pertumbuhan harus ditopang peningkatan produktivitas dan daya saing, pemerataan diarahkan agar manfaat pembangunan dinikmati pekebun rakyat, sedangkan pengembangan SDM menjadi kunci menghadapi transformasi teknologi dan industri.
Chairman Indonesian Plantation Association (IPA), Delima Hasri Azahari, menekankan pentingnya kolaborasi untuk mewujudkan keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun sawit, kakao, dan kelapa. Keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan ekonomi pekebun harus berjalan beriringan. Untuk itu, ICExpo 2026 menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus mendorong aksi nyata melalui percepatan hilirisasi, riset, inovasi, dan peningkatan produktivitas.
Penguatan aliansi minyak sawit dan sertifikasi keberlanjutan menjadi salah satu agenda strategis ICExPO 2026. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat posisi minyak sawit Indonesia di pasar global sekaligus mendorong pengembangan industri perkebunan yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Melalui forum yang didukung BPDP, pemerintah secara resmi mendorong penguatan hilirisasi, riset, teknologi, dan inovasi untuk mengoptimalkan potensi tiga komoditas unggulan nasional. Pengembangan ketiganya diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah industri, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi pekebun.
Agenda-agenda tersebut mengemuka dalam ICExPO 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 4-5 November 2026. Sejumlah pejabat pemerintah dan tokoh nasional hadir, antara lain Wamenko Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet, serta Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Purnomo Yusgiantoro. Perwakilan internasional dari Brasil, Malaysia, Papua Nugini, dan Rusia juga turut hadir.
Selain konferensi dan pameran, ICExPO 2026 menghadirkan sejumlah agenda pendukung seperti klinik geolokasi, sertifikasi ISPO, serta penguatan ketertelusuran produk. Agenda ini diharapkan membantu pekebun memenuhi standar internasional sekaligus memperluas akses pasar.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Youth Bootcamp pada 6-7 November 2026 di Kampus Universitas Pertahanan IPSC Sentul. Melalui berbagai agenda tersebut, ICExpo 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, pekebun, dan mitra internasional guna membangun industri perkebunan nasional yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Komentar