|

Perempuan Terlahir Tanpa Lengan Kiri ini Menginspirasi di Tengah Pandemi

Terapis pernapasan Savannah Stuard yang terlahir tanpa lengan bawah, di Ochsner Medical Center di New Orleans (AP Photo/Gerald Herbert)
Suara Landak - Dilansir dari VOA, terapis pernapasan adalah salah satu pekerja di garda terdepan paling penting, dalam melawan COVID 19. Seperti dilansir dari situs Associated Press, Savannah Stuard adalah salah satunya.

Sehari-harinya, Savannah bertugas mengoperasikan ventilator, yang menjadi penyelamat jiwa, atau secara manual memompa udara ke dalam paru-paru pasien melalui teknik yang disebut “bagging.”

Namun, ada satu hal yang menjadi tantangan bagi Savannah. Terapis muda yang baru dua tahun lulus dari sekolah kedokteran ini, membantu menyelamatkan jiwa pasien di Ochsner Medical Center di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat, hanya dengan menggunakan satu tangan.

Terlahir tanpa lengan bawah bagian kiri, Savannah seringkali bekerja hingga 12 jam, dengan mengenakan alat pelindung diri dari kepala sampai ujung kaki. Bagian ujung lengan bawah di bagian kirinya, ditutup dengan sarung tangan yang direkat dengan pita pelekat, untuk melindunginya.

"Ketika masuk, semua orang mengenakan baju pelindung diri. Mereka mengenakan masker dan merawat pasien mereka. Sebagai terapis pernapasan, saya masuk setiap empat hingga enam jam atau bahkan lebih,” terang Savannah.

“Setiap harinya, terapis pernapasan bertanggung jawab atas empat hingga lima ventilator. Kali ini, jumlah ventilatornya telah meningkat sangat tinggi, sehingga kami harus melakukan terapi lebih dari itu. Saya menemui sekitar 11 hingga 12 pasien dalam satu waktu,” lanjutnya.

Menurutnya, bekerja di lingkungan yang steril, banyak tantangannya, mengingat ia tidak memiliki dua tangan.

“Jadi saya harus berpikir, apa yang harus saya pegang selanjutnya, dan apa yang harus saya gunakan untuk melindungi tangan saya, agar tetap steril,” jelas Savannah.

Savannah mengatakan, bahwa pekerjaannya ini sangat memuaskan hati. Ia bahkan mendatangkan inspirasi antar sesama, dan mengangkat semangat para pasien.

“Kebanyakan pasien yang melihat keadaan saya lalu terkejut. Mereka banyak bertanya kepada saya. Sungguh luar biasa,” jelasnya.

Savannah juga menjadi relawan di berbagai organisasi, dimana ia menjadi mentor anak-anak muda, yang juga tidak memiliki bagian tubuh tertentu.

Sebagai mentor, ia menunjukkan bagainana cara mempelajari berbagai hal, seperti mengikat tali sepatu, berpartisipasi dalam olah raga senam, karate, dan olah raga lainnya.

Ia juga bertemu dengan banyak pasien yang juga tidak memiliki bagian tubuh tertentu, yang bercerita mengenai kisah hidup masing-masing.

“Ada yang bercerita, ‘saya kehilangan kaki saya, karena kecelakaan mobil, dan kamu telah memberikan saya banyak harapan.’ Saya senang mendengarnya. Inilah yang saya inginkan, yaitu membantu orang untuk menjadi lebih baik, karena mereka telah melihat sosok orang yang juga memiliki bagian tubuh yang kurang, tetapi tetap bisa melakukan banyak hal," katanya.

Kisah hidup Savannah berhasil menarik perhatian pemain quarterback futbol dari tim New Orleans Saints, Drew Brees, yang telah beramal untuk membantu para pekerja medis di garis depan, serta menyediakan layanan kesehatan di komunitas yang kurang terlayani di New Orleans dan Baton Rouge.

Drew Brees mengatakan, upayanya adalah bagian dari keterlibatannya dalam The Real Heroes Project, yang merupakan kolaborasi dari 15 liga olah raga laki-laki dan perempuan. Para atlet yang berpartisipasi juga mengirimkan ucapan terima kasih kepada para pekerja medis, melalui media sosial.

“Dia menulis nama saya di bagian belakang seragam futbolnya dan bilang, “semua ini adalah untukmu, pahlawan yang sesungguhnya,’ dan ia berterima kasih kepada saya atas apa yang saya lakukan. Bisa diakui seperti itu sangat luar biasa dan menyenangkan,” katanya.

Kisah hidup Savannah Stuard berhasil mendorong semangat dan menginspirasi sesama, untuk bisa melakukan lebih banyak hal lagi. (VOA)
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini