|

Menurut Pakar, Pengajuan Pailit Selamatkan Retail yang Kesulitan Sebelum Pandemi

Lord & Taylor baru-baru ini menambah daftar panjang usaha retail AS yang terpukul karena pemberlakuan tinggal di rumah akibat pandemi virus corona. (Foto: ilustrasi).
Suara Landak - Dilansir dari VOA, daftar usaha retail Amerika yang mengajukan pailit tahun ini beragam dan semakin panjang. Mulai dari yang menjual barang-barang murah dan tidak bermerek hingga merek terkenal yang sudah eksis seabad dan pelanggannya selebriti.

Pakar industri menyatakan bisnis-bisnis ini sudah banyak yang kesulitan sebelum pandemi, tetapi krisis kesehatan ini merupakan pukulan terakhir yang mematikan. Namun dari segi lain, dengan mengajukan pailit atau menyatakan kebangkrutan itu beberapa bisnis akan dapat menyelamatkan usaha mereka.

Lord & Taylor baru-baru ini menambah daftar panjang usaha retail AS yang terpukul karena pemberlakuan tinggal di rumah akibat pandemi virus corona. Dimulai pada tahun 1824, department store yang ditemukan di puluhan pusat perbelanjaan ini menyatakan dirinya pailit baru-baru ini.

Brian Marks, Dosen Ekonomi Senior dari Universitas New Haven di Connecticut berpendapat, kesulitan itu juga menyumbang pada resesi ekonomi yang sudah eksis sebelum pandemi.

Penutupan berbulan-bulan sebagai upaya melawan pandemi itu menyebabkan penjualan barang-barang retail dari toko-toko turun secara drastis. Akan tetapi Brian Marks menilai hal tersebut bisa memberi peluang perubahan operasi dari usaha besar seperti itu.

“Jika kita perhatikan peretail utama seperti J.C. Penney, J. Crew, Neiman Marcus, Brooks Brothers dan Lord and Taylor, yang mapan dan sangat strategis dalam industri retail, mereka mempunyai hutang dan biaya sewa yang signifikan, kecuali Lord dan Taylor,” ujar Brian Marks.

Mary Epner, salah seorang pendiri Re / Agent NYC, grup analisis retail, menyatakan meskipun sudah mengajukan kebangkrutan itu belum tentu merupakan akhir dari usaha tersebut, malah sebaliknya dapat dijadikan mekanisme untuk mengatur ulang, merestrukturisasi utang, dan memulai sebuah strategi bisnis yang baru.

Tetapi tetap saja, akibat punya banyak lokasi, toko-toko itu kesulitan membayar sewa bangunan karena berkurangnya pendapatan mereka akibat krisis kesehatan publik yang berkepanjangan.

“Lord dan Taylor ada di 45 lokasi. Peretail J. Crew hampir di 500 lokasi dan J.C. Penney lebih dari delapan ratus lokasi. Bukankah mereka terikat kontrak real-estat untuk mendukung operasi retail,” papar Brian Marks lebih lanjut.

JC Penny merupakan jaringan department store ikonik lainnya yang juga bangkrut. retail yang dimulai lebih dari seratus tahun lalu dan kini punya hampir 85.000 karyawan berencana menutup sekitar sepertiga dari hampir 850 tokonya di seluruh Amerika.

Penutupan toko di sejumlah mal belanja mempengaruhi bisnis yang lebih kecil seperti Victoria Secret dan Bath & Body Works yang berbagi dengan pengecer besar dan juga menyewa ruang di mal-mal tersebut.

“Jadi, sangat memprihatinkan. Bayangkan saja, jika J.C. Penney dan Lord Taylor berada dalam satu mal dan keduanya tutup. Hal itu akan sangat mengejutkan dan menghancurkan ekonomi," terang Mary Epner.

Baik Epner maupun Marks berpendapat tidak semua karyawan akan kehilangan pekerjaan. Namun perubahan pola operasi retail dapat dilakukan dengan mengurangi penjualan langsung kepada pelanggan di sejumlah toko, memperbanyak penjualan secara online atau menjual dari gudang, dua cara yang akan mengefisienkan distribusi mereka. (VOA)
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini