The Fed New York: Inflasi AS Masih Jauh dari Target 2%, Komitmen Tetap Dijalankan

Presiden The Fed New York John Williams tegaskan komitmen mengembalikan inflasi AS ke target 2% meski ekonomi tangguh dan pasar tenaga kerja stabil. Pemicu inflasi disorot.

The Fed New York: Inflasi AS Masih Jauh dari Target 2%, Komitmen Tetap Dijalankan
Presiden The Fed New York John Williams. (Foto: Manuel Balce Ceneta/ AP)

Perekonomian Amerika Serikat (AS) menunjukkan ketahanan yang kuat dan pasar tenaga kerja relatif stabil di tengah berbagai guncangan ekonomi global. Namun, tingkat inflasi yang masih tinggi menjadi perhatian utama dan wajib ditekan kembali ke target 2%.

Hal ini ditegaskan oleh Presiden The Federal Reserve (The Fed) Bank New York, John Williams, dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt pada Jumat (6/11/2026). Laju inflasi global saat ini melonjak signifikan, salah satunya dipicu oleh tingginya harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, lonjakan investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga berkontribusi pada kenaikan biaya produk dan layanan teknologi informasi.

“Inflasi benar-benar terlalu tinggi. Kondisi ini sudah berlangsung terlalu lama. Sangat krusial bagi kami untuk mengembalikan laju inflasi ke target 2% secara tepat waktu dan berkelanjutan,” ujar Williams di hadapan para peserta konferensi ECB.

Williams menekankan bahwa fokus utama The Fed saat ini adalah memantau arah pergerakan inflasi di masa depan. Tujuannya adalah memastikan guncangan yang terjadi tidak meluas menjadi inflasi yang berkelanjutan. “Beruntung, sejauh ini kami tidak melihat hal itu terjadi pada ekspektasi inflasi, yang masih terjaga dengan baik. Pertumbuhan upah pekerja juga saya nilai masih sejalan dengan pencapaian target 2% kami,” jelasnya.

Meskipun Williams tidak merinci arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan mendatang, ia menilai pernyataan kebijakan terakhir The Fed sudah tepat. Kebijakan tersebut menekankan perlunya mengumpulkan lebih banyak data dan informasi ekonomi sebelum menentukan penyesuaian suku bunga berikutnya.

Saat ini, pelaku pasar keuangan memperkirakan peluang lebih dari 50% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan pada Desember mendatang. Sementara itu, keputusan penyesuaian suku bunga pada Maret 2027 telah diantisipasi sepenuhnya oleh pasar.

Upaya The Fed dalam mengendalikan inflasi menghadapi tantangan berat akibat kombinasi tekanan ekonomi domestik dan gejolak geopolitik global. Lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah serta pesatnya belanja modal di industri teknologi AI telah memicu tekanan biaya dari sisi penawaran (cost-push inflation). Kondisi ini memaksa bank sentral AS untuk mengevaluasi kembali ketahanan kebijakan moneter ketat mereka.

Di tengah ketidakpastian pasar finansial global, respons kebijakan suku bunga acuan The Fed menjadi acuan utama bagi bank-bank sentral dunia dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta menahan laju inflasi di negara masing-masing.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *