Saham GOTO Menguat Tajam Pasca Keputusan Pembatalan Saham Tresuri

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melonjak drastis pada perdagangan Jumat (6/11/2026) seiring apresiasi pasar atas pembatalan saham tresuri dan buyback.

Saham GOTO Menguat Tajam Pasca Keputusan Pembatalan Saham Tresuri
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). (Foto: GOTO)

JAKARTA – Pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan anomali signifikan pada perdagangan Jumat, 6 November 2026. Sekitar pukul 14.30 WIB, saham GOTO melonjak 12,50% ke level Rp 27 dengan nilai transaksi menembus Rp 463,26 miliar. Lonjakan ini kontras dengan pergerakan stagnan yang terjadi dalam empat hari bursa sebelumnya, di mana nilai transaksi tertingginya hanya mencapai Rp 115,26 miliar pada 4 November 2026.

Apresiasi pasar ini disebut-sebut sebagai respons terhadap upaya GOTO dalam memberikan manfaat langsung kepada pemegang saham melalui pembatalan saham tresuri dan program pembelian kembali saham (buyback). Keputusan pembatalan saham tresuri telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026 dan akan diselesaikan setelah memenuhi persyaratan yang berlaku.

Analis Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menjelaskan pada Kamis, 5 November 2026, bahwa pembatalan saham tresuri akan secara permanen menghapus saham tersebut dari jumlah saham yang diterbitkan perusahaan. Hal ini memberikan manfaat konkret bagi investor, karena meskipun jumlah saham yang mereka pegang tetap sama, persentase kepemilikan mereka terhadap total saham perusahaan akan meningkat seiring berkurangnya jumlah saham beredar.

“Ini dilakukan saat GOTO sudah cetak laba bersih sehingga kinerja yang kuat ini turut dirasakan untuk jangka panjang,” ujar Abdul Azis. Ia menambahkan bahwa strategi ini menjadi relevan ketika fundamental perusahaan membaik, namun valuasi pasarnya masih tertinggal.

Abdul Azis menyoroti bahwa saham GOTO saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 75% dibandingkan perusahaan sejenis jika dilihat dari pendekatan valuasi nilai perusahaan terhadap EBITDA (EV/EBITDA). Saham GOTO diperdagangkan pada 3,3x EV/EBITDA, sementara rata-rata perusahaan di sektor digital dan fintech peers berada di kisaran 13-14x EV/EBITDA.

“Harga di pasar saat ini memang belum sepenuhnya mencerminkan perubahan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan kas,” kata dia. Perbaikan kinerja GOTO terlihat dari pencapaian laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut. Pada kuartal III-2026, GOTO berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 441 miliar, melanjutkan tren profitabilitasnya di tengah tantangan yang dihadapi sebagian lini bisnisnya.

Abdul Azis membandingkan GOTO dengan perusahaan internet lain yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), di mana GOTO menunjukkan pencapaian laba yang paling konsisten. Laba bersih yang positif ditopang oleh bisnis inti dan model ekosistem yang terbukti efektif, menjadi landasan kuat untuk menilai prospek perusahaan dalam jangka panjang.

Pencapaian laba tersebut juga dibarengi dengan arus kas bebas yang disesuaikan sebesar Rp 1,21 triliun pada kuartal III-2026. Angka ini memperkuat penilaian terhadap perbaikan kinerja GOTO sekaligus memberikan fleksibilitas finansial untuk mendanai pertumbuhan dan menjalankan strategi permodalan. Keterhubungan antara layanan transportasi, pengantaran, pembayaran, dan keuangan diidentifikasi sebagai kekuatan fundamental jangka panjang GOTO.

Ekosistem yang terintegrasi ini membuka peluang peningkatan frekuensi transaksi dan penggunaan lintas layanan. Keberlanjutan pertumbuhan GOTO ke depan akan tetap bergantung pada disiplin biaya, dinamika persaingan, serta pengelolaan risiko kredit yang cermat.

Abdul Azis menyimpulkan bahwa keberlanjutan laba menjadi dasar bagi peluang penilaian ulang saham GOTO, sementara pembatalan saham tresuri mempermanenkan manfaat kepemilikan dari buyback. Kombinasi keduanya memperkuat argumen untuk mencermati kesenjangan antara valuasi pasar dan fundamental perusahaan, meskipun waktu dan besarnya penyesuaian harga akan tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar secara keseluruhan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *