MSCI Pertimbangkan Turunkan Status RI, Potensi Arus Keluar Modal Asing Capai US$ 6 Miliar

Penilaian MSCI Inc terhadap Indonesia berpotensi menyebabkan arus keluar modal asing hingga US$ 6 miliar. Simak analisis lengkapnya.

MSCI Pertimbangkan Turunkan Status RI, Potensi Arus Keluar Modal Asing Capai US$ 6 Miliar
Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz dalam media briefing di Sabang, Aceh pada Kamis (5/11/2026). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

Penilaian MSCI Inc terhadap status pasar modal Indonesia memunculkan ketidakpastian yang dapat berujung pada potensi arus keluar modal asing hingga US$ 6 miliar dari pasar keuangan domestik jika tidak ada langkah mitigasi yang memadai.

MSCI Inc pada Kamis, 15 Oktober 2026, mengumumkan konsultasi mengenai usulan untuk menurunkan klasifikasi indeks MSCI Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Periode masukan dari para pelaku pasar dibuka hingga 30 April 2027, dengan keputusan final mengenai status pasar saham Indonesia dijadwalkan diumumkan pada atau sebelum 30 Juni 2027.

Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, menjelaskan bahwa ketidakpastian menjelang keputusan final ini membuat investor asing masih ragu untuk berinvestasi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat. Investor asing tengah mempertimbangkan kondisi pasar saham saat ini.

“Kami melihat memang potensi keluar dari pasar saham ini berkisar antara US$ 2 sampai US$ 6 miliar yang terdiri dari active fund dan juga passive fund,” ucap Irman dalam kegiatan media briefing di Sabang, Aceh, pada Kamis (5/11/2026).

Irman membedakan antara investor aktif dan pasif. Investor aktif adalah mereka yang tidak terikat pada penilaian MSCI Inc dan memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan investasi. Sementara itu, investor pasif adalah mereka yang keputusannya mengacu pada hasil penilaian MSCI Inc.

Ketidakpastian mengenai keputusan MSCI pada kuartal II-2027 cenderung membuat investor asing menahan diri. “Artinya kalau kita didowngrade baru dia akan keluar. Sehingga sifatnya lebih lagging menuju kuartal II-2027,” tutur Irman.

Menurut Irman, faktor yang lebih besar memengaruhi keputusan investor adalah kondisi geopolitik. Ketika kondisi geopolitik membaik, investor aktif cenderung masuk ke pasar keuangan Indonesia. Sebaliknya, jika memburuk, dikhawatirkan mereka akan keluar.

“Kalau geopolitiknya memburuk itu dia cenderung keluar. Itu yang lebih besar mempengaruhi dibandingkan dengan MSCI uncertainty ini untuk active investor. Kalau kita lihat dampak dari MSCI ini mungkin sebelum final decision itu terjadi yang akan mendorong passive fund lebih besar,” ujarnya.

Irman menambahkan, risiko terbesar bukan hanya potensi arus keluar dari pasar saham, tetapi juga jika masalah ini merembet ke pasar obligasi. Kenaikan yield obligasi secara tajam dapat meningkatkan beban pembayaran bunga pemerintah.

“Karena kalau di bonds market itu portfolio flows yang masuk biasanya langsung beli dolar, repatriate dananya. Namun kalau pasar saham dia bisa lakukan asset rotation dulu sebelum dia keluar,” jelasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *