Saham-saham emiten emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren penguatan seiring dengan pemulihan harga komoditasnya di pasar global. Analis memprediksi sektor ini berpeluang menguat 15–25% hingga akhir tahun ini, didukung oleh harga emas yang telah menyentuh US$4.137 per troy ounce pada perdagangan kemarin.
Pergerakan positif terlihat pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melonjak 15,76% ke level Rp2.130. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menguat 12,07% menjadi Rp975, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 8,28% ke Rp3.660. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga tercatat naik 6,49% ke Rp328, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menguat 5,66% ke Rp5.600, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 4,62% ke Rp2.720.
President Director Infovesta Utama Jaya, Wawan Hendrayana, menjelaskan bahwa emas sempat mengalami penurunan ke US$3.870 per troy ounce di akhir Oktober sebelum kembali menembus US$4.000 seiring melemahnya dolar AS. “Dalam jangka pendek, saham emas berpeluang ikut naik, meski tetap volatil,” ujarnya.
Menurut Wawan, prospek saham emas dalam jangka menengah tetap positif. Hal ini karena harga komoditas emas berada jauh di atas biaya produksi sebagian besar perusahaan tambang. Peningkatan harga emas dapat memperbesar margin keuntungan perusahaan, mengingat biaya produksi cenderung tetap. Bahkan, kenaikan 10% harga emas berpotensi menggandakan margin, yang akan menjadi katalis kuat bagi harga sahamnya.
“Proyeksi sederhana saya, selama harga emas dunia bertahan di kisaran US$4.000 sampai US$4.300 hingga akhir tahun, saham emas berpeluang naik sekitar 15-25% dari posisi sekarang,” kata Wawan. Ia merekomendasikan beli saham ANTM pada kisaran Rp2.400–2.600 dengan target harga Rp3.000–3.200, dan MDKA pada Rp1.900–2.000 dengan target Rp2.400–2.500. Untuk BRMS dan ARCI, investor disarankan mencermati peluang beli saat harga terkoreksi.
Head of Research KISI, Muhammad Wafi, menilai penguatan emas memberikan sentimen positif di tengah pelemahan rupiah. Namun, saham emas tetap rentan terhadap tekanan pasar, terutama akibat aksi jual investor asing dan ketidakpastian evaluasi indeks MSCI.
Wafi menyarankan investor untuk memprioritaskan emiten dengan biaya produksi rendah, tren kenaikan produksi, dan neraca keuangan yang sehat. Ia melihat ANTM relatif defensif berkat likuiditas saham dan neraca yang kuat. MDKA menarik dari pengembangan tambang Pani, meskipun masih ada risiko utang dan potensi dilusi. BRMS menawarkan potensi pertumbuhan produksi yang besar, namun perlu dicermati risiko perubahan status dalam indeks MSCI.
Manfaat kenaikan harga emas juga bervariasi tergantung model bisnis emiten. Perusahaan dengan produksi emas langsung akan memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan yang mengandalkan perdagangan emas dengan margin tipis. Oleh karena itu, BRMS, EMAS/MDKA, dan AMMN dinilai memiliki potensi manfaat lebih besar seiring peningkatan produksi.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, melihat prospek saham tambang emas tetap positif dalam jangka pendek hingga menengah. Hal ini didukung oleh penguatan harga emas dunia yang bergerak di atas US$4.100 per troy ounce, pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ketidakpastian geopolitik.
“Namun, investor perlu mewaspadai volatilitas harga emas setelah koreksi tajam sebelumnya. Kami memperkirakan saham emiten emas masih berpeluang mengalami penguatan, terutama perusahaan dengan eksposur pendapatan emas yang besar, biaya produksi kompetitif, serta prospek peningkatan produksi,” ujar Arinda.
Ia merekomendasikan saham ANTM dengan target harga Rp4.530, disusul BRMS di target Rp735, EMAS dengan target Rp9.630, dan MDKA di target Rp4.100. Arinda menambahkan, ANTM menarik dari sisi fundamental dan diversifikasi bisnis, sementara ARCI memiliki eksposur langsung terhadap produksi emas. BRMS memiliki prospek pertumbuhan produksi dari pengembangan tambang Poboya, meskipun valuasinya perlu dicermati karena masih relatif tinggi. MDKA dianggap menarik untuk strategi jangka menengah melalui pengembangan proyek emas Pani.
Komentar