PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) berencana melakukan langkah strategis dengan mengakuisisi sebanyak 6,68 miliar saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Akuisisi ini setara dengan 29,88% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh INET, dengan nilai transaksi yang diperkirakan mencapai Rp 2 triliun.
Dalam rencana ini, DOOH akan menunjuk anak usahanya, PT Cakrawala Nexus Investama (CNI), yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh DOOH sebesar 99,99%, untuk melaksanakan pembelian saham tersebut. Pihak penjual dalam transaksi ini adalah PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN).
Berdasarkan keterbukaan informasi yang baru-baru ini disampaikan, harga pembelian saham INET ditetapkan sebesar Rp 300 per saham. Transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi material karena nilainya yang signifikan, yaitu mencapai 647,90% dari total ekuitas DOOH per 30 Juni 2026 yang tercatat sebesar Rp 309,54 miliar. Oleh karena itu, akuisisi ini memerlukan persetujuan dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Terkait kewajaran harga, Kantor Jasa Penilai Publik Toha, Okky, Heru dan Rekan telah memberikan penilaian. Mereka menyatakan bahwa transaksi ini wajar, dengan mempertimbangkan rata-rata harga tertinggi saham INET selama 90 hari sebelum 30 Juni 2026 yang berada di angka Rp 296 per saham. Selisih harga transaksi sebesar Rp 300 per saham hanya sekitar 1,35%, yang masih dalam rentang kewajaran plus minus 7,5%.
Manajemen DOOH dan CNI juga secara tegas menyatakan bahwa transaksi ini bukan merupakan transaksi afiliasi maupun transaksi yang menimbulkan benturan kepentingan, mengingat tidak adanya hubungan afiliasi dengan pihak penjual, AKUN.
Pendanaan untuk transaksi akuisisi ini akan bersumber dari dua jalur utama. Pertama, DOOH akan menyetorkan modal kepada CNI sebesar Rp 120 miliar yang berasal dari dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO). Kedua, sisanya sebesar Rp 1,88 triliun akan dipenuhi dari pencairan awal pinjaman yang diberikan oleh PT Sinergi Internasional Investama (SII), yang merupakan pemegang saham pengendali DOOH.
Dengan pencairan awal ini, total dana pinjaman dari SII yang diterima mencapai Rp 2 triliun dari plafon maksimal yang disepakati sebesar Rp 5 triliun. Pinjaman ini dikenakan suku bunga sekitar 7,5% per tahun, sehingga diperkirakan akan menimbulkan beban bunga sekitar Rp 150 miliar per tahun. Jika seluruh plafon pinjaman ditarik, beban bunga berpotensi meningkat menjadi sekitar Rp 375 miliar per tahun.
Rencana pendanaan ini diproyeksikan akan memberikan dampak signifikan terhadap struktur keuangan DOOH. Berdasarkan proyeksi proforma per 30 Juni 2026, total aset perseroan diperkirakan akan melonjak dari Rp 406,5 miliar menjadi Rp 2,40 triliun. Namun, hal ini juga akan dibarengi dengan peningkatan total liabilitas dari Rp 96,97 miliar menjadi Rp 2,09 triliun.
Konsekuensinya, rasio liabilitas terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) diperkirakan akan meningkat drastis dari 0,31 kali menjadi 6,77 kali. Apabila seluruh plafon pinjaman dari SII dimanfaatkan, rasio DER berpotensi mencapai 16,47 kali.
Komentar