19 Macan Tutul Jawa Terdeteksi di Bromo Tengger Semeru, Populasi Berisiko Sedang

Survei terbaru di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengidentifikasi 19 individu macan tutul jawa melalui 160 kamera pengintai, menunjukkan populasi berisiko sedang.

19 Macan Tutul Jawa Terdeteksi di Bromo Tengger Semeru, Populasi Berisiko Sedang
Sebanyak 19 individu macan tutul jawa (Panthera pardus melas) teridentifikasi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)

Sebanyak 19 individu macan tutul jawa (Panthera pardus melas) telah berhasil diidentifikasi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Penemuan ini merupakan hasil dari pemantauan ekstensif menggunakan 160 kamera pengintai yang dipasang sebagai bagian dari survei Java-Wide Leopard Survey (JWLS).

Analisis data yang rampung pada Agustus 2026 mengungkapkan bahwa dari 19 individu tersebut, terdapat tujuh ekor jantan, 10 ekor betina, dan dua anak macan tutul. Pemantauan kamera ini dilakukan secara berkala di wilayah TNBTS mulai Januari 2024 hingga Maret 2026.

Survei ini merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA, Kementerian Kehutanan, Balai Besar TNBTS, serta Yayasan SINTAS Indonesia. Pengumuman hasil survei ini bertepatan dengan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang jatuh pada 5 November 2026.

Selama periode Januari 2024 hingga Agustus 2026, macan tutul jawa terdeteksi di 46 stasiun kamera, mencakup 58% dari seluruh titik pemantauan yang ditentukan. Wilayah hutan yang kondisinya relatif terjaga menunjukkan tingkat deteksi tertinggi. Selain itu, tim peneliti berhasil mengumpulkan 44 sampel kotoran macan tutul untuk keperluan pemeriksaan DNA lebih lanjut.

Field Coordinator Java-Wide Leopard Survey (JWLS) Region Timur, Ummi Farikhah, menjelaskan bahwa survei ini juga berhasil mendokumentasikan keberadaan 46 jenis satwa lain di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 jenis di antaranya merupakan mangsa potensial bagi macan tutul jawa.

“Ketersediaan rantai pakan alami ini menjadi harapan besar bagi kelangsungan hidup macan tutul jawa. Untuk itu, perlindungan dan pemulihan habitat, pemantauan populasi secara berkala, serta penguatan konektivitas antarhabitat perlu ditingkatkan,” ujar Ummi dalam keterangan pers yang diterima pada Jumat (6/11/2026).

Meskipun ketersediaan mangsa memberikan optimisme, macan tutul jawa masih dihadapkan pada berbagai ancaman serius. Fragmentasi habitat, penurunan keragaman genetik, serta potensi konflik dengan manusia menjadi tantangan utama yang perlu diatasi.

Hasil awal dari analisis kesintasan populasi (Population Viability Analysis/PVA), yang memproyeksikan daya tahan populasi selama 100 tahun ke depan, menempatkan macan tutul jawa di TNBTS dalam kategori risiko sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa populasi tersebut memiliki peluang untuk bertahan hidup jika kawasan TNBTS dikelola secara intensif dan konektivitas antar habitat tetap terjaga dengan baik.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menekankan bahwa pelestarian macan tutul jawa tidak dapat dipisahkan dari upaya perlindungan ekosistem hutan secara menyeluruh. “Sebagai predator puncak, keberadaannya merupakan indikator vital bagi kesehatan hutan yang menjadi penyangga tata air dan keanekaragaman hayati,” kata Hera.

Lebih lanjut, Hera menambahkan bahwa upaya konservasi yang efektif sangat membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan hutan. Keterlibatan masyarakat, termasuk dalam upaya pencegahan perburuan liar dan pengurangan potensi konflik dengan satwa liar, sangat krusial untuk keberhasilan jangka panjang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *