Harga emas global mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Penurunan ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi pasar. Data tersebut turut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.
Kondisi ini meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama, bahkan membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga lagi pada Desember mendatang. Situasi ini secara umum menjadi sentimen negatif bagi komoditas emas.
Berdasarkan data pasar, harga emas di pasar spot tercatat turun 0,56% menjadi US$ 4.066,22 per ons troi pada saat berita ini ditulis. Sebelumnya, harga logam mulia ini sempat mengalami koreksi lebih dalam, merosot lebih dari 1% hingga menyentuh level terendah intraday di US$ 4.033,29 per ons troi.
Sementara itu, pergerakan harga emas berjangka AS untuk kontrak pengiriman Desember juga dilaporkan melemah. Kontrak tersebut ditutup turun 0,9% menjadi US$ 4.074,90 per ons troi.
Meskipun mengalami koreksi pada hari Jumat, harga emas spot masih menunjukkan penguatan yang signifikan sepanjang pekan ini. Logam mulia ini mencatatkan kenaikan hampir 5%, berada di jalur untuk membukukan kinerja mingguan terbaiknya sejak bulan Agustus.
Tekanan utama terhadap harga emas datang dari penguatan mata uang dolar AS. Indeks dolar tercatat naik 0,7% dan mencapai level tertingginya sejak 29 Oktober. Penguatan dolar ini membuat emas, yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami peningkatan.
Seorang pedagang logam independen, Tai Wong, mengungkapkan bahwa emas dibuka dengan penurunan signifikan menyusul laporan ketenagakerjaan yang sangat kuat dari berbagai indikator. “Namun, sekarang emas berusaha bangkit kembali. Ini menjadi ujian bagi reli emas sepanjang pekan ini,” ujarnya.
Data nonfarm payrolls yang dirilis menunjukkan bahwa penambahan tenaga kerja di AS pada bulan Oktober melampaui proyeksi pasar. Tingkat pengangguran juga dilaporkan turun menjadi 4,1%, sebuah indikasi bahwa pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan ketangguhan.
Suku Bunga The Fed dan Dampaknya
Perkembangan data tenaga kerja yang positif ini memberikan The Fed lebih banyak ruang untuk memfokuskan perhatiannya pada upaya pengendalian inflasi. Isu inflasi ini menjadi semakin relevan, terutama dengan adanya tekanan harga yang mungkin timbul dari konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Berdasarkan analisis perangkat CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan adanya peluang sebesar 81% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan Desember. Angka ini meningkat dari perkiraan sebelumnya yang hanya 72,8% sebelum data payrolls dirilis.
Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan ini menjadi sentimen negatif yang signifikan bagi pergerakan harga emas. Sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (yield) secara inheren, emas cenderung kehilangan daya tariknya ketika suku bunga meningkat. Hal ini dikarenakan biaya peluang untuk memegang logam mulia tersebut menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan aset berbunga.
Di pasar fisik, penurunan harga emas justru dimanfaatkan oleh konsumen di India untuk melakukan pembelian menjelang perayaan festival Diwali. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam satu tahun terakhir, yaitu di US$ 3.869,85 per ons troi pada 30 Oktober.
Sementara itu, komoditas logam mulia lainnya menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Harga perak spot tercatat naik 0,28% menjadi US$ 51,92 per ons, dan platinum melonjak 1,22% mencapai US$ 1.538,55 per ons. Namun, paladium justru mengalami penurunan sebesar 1%, ditutup pada US$ 1.024,68 per ons. Ketiga logam ini secara keseluruhan masih berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan.
Komentar