Bank Sentral di Luar G7 Tingkatkan Cadangan Emas, Cari Keamanan Ekonomi

Bank sentral di luar negara G7 mulai beralih ke emas sebagai lindung nilai ekonomi di tengah kekhawatiran utang dan geopolitik, sementara negara Barat masih pertahankan dolar AS.

Bank Sentral di Luar G7 Tingkatkan Cadangan Emas, Cari Keamanan Ekonomi
Ilustrasi emas batangan dan koin. (Foto: AP/ Jae C. Hong)

JAKARTA – Bank-bank sentral di luar negara-negara G7 dilaporkan semakin gencar mengumpulkan emas sebagai instrumen untuk melindungi perekonomian mereka dari ancaman tumpukan utang dan ketidakpastian geopolitik. Langkah ini diambil seiring keengganan negara-negara Barat untuk melepaskan dominasi dolar Amerika Serikat.

Menurut Cam Currie, penasihat investasi senior di Canaccord Genuity Wealth Management, negara-negara di luar kelompok Barat kini mulai mengadopsi standar emas. Keputusan ini didasari oleh pengamatan terhadap pengelolaan ekonomi yang dinilai kurang baik oleh negara-negara G7.

“Apa yang kita saksikan saat ini adalah negara-negara di luar kelompok Barat mulai beralih ke standar emas,” ujar Currie dalam sebuah diskusi The Northern Miner, seperti dikutip dari Kitco News, Sabtu (7/11/2026). “Mereka kembali ke standar emas karena melihat bagaimana buruknya pengelolaan ekonomi oleh negara-negara G7,” tambahnya.

Currie menjelaskan bahwa negara-negara di luar G7 memandang emas sebagai instrumen untuk mencapai keamanan ekonomi. Logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil bunga ini telah bertransformasi menjadi mata uang cadangan dan alat tawar bagi negara-negara tersebut.

“Dunia Barat belum benar-benar mengadopsinya, karena mengakui standar emas berarti mengakui adanya masalah pada dolar AS, sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam situasi saat ini. Namun, kenyataannya memang itulah yang sedang terjadi,” kata dia.

Ia berpendapat bahwa bank sentral tidak memiliki alasan kuat untuk secara terbuka mendukung kembalinya standar emas selama mereka masih dalam fase akumulasi cadangan. “Jika Anda masih terus membelinya seperti yang dilakukan oleh bank-bank sentral tersebut, mengapa Anda harus mengumumkan bahwa Anda beralih ke standar emas? Anda kan masih dalam tahap akumulasi,” imbuhnya.

Currie meyakini bahwa peningkatan tingkat utang global dan suku bunga yang lebih tinggi semakin menjadikan emas sebagai aset aman yang menarik. Hal ini menempatkan logam mulia tersebut pada posisi yang strategis dalam perdebatan ekonomi global.

“Itulah sebabnya emas harus menjadi bagian dari kelas aset Anda, mengingat adanya risiko yang terus berkembang di pasar utang,” tambahnya. Peningkatan prospek pembelian emas oleh bank sentral juga diungkapkan oleh World Gold Council (WGC). Analis WGC memproyeksikan bank sentral akan membeli 321 ton emas pada kuartal ketiga 2026, sebuah peningkatan 42% dibandingkan tahun lalu dan jauh di atas rata-rata kuartalan lima tahun terakhir yang tercatat sebesar 227 ton.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *