- Dampak terhadap ikan dan sumber pangan
- Pemantauan lingkungan setelah kebakaran
Kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) dapat menimbulkan persoalan lingkungan yang berlanjut setelah api padam. Dilansir dari Suara, sisa pembakaran yang terbawa air hujan berpotensi mencemari sungai dan danau, mengganggu kehidupan organisme perairan, serta memengaruhi ketersediaan ikan sebagai sumber pangan masyarakat. Risiko tersebut membuat dampak karhutla perlu diperhatikan hingga ke kawasan perairan.
Selain merusak lingkungan daratan dan memperburuk kualitas udara, kebakaran juga dapat memengaruhi rantai makanan serta mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada aktivitas perikanan. Material hasil pembakaran dapat berpindah dari atmosfer ke permukaan tanah dan air melalui hujan. Proses pengendapan partikel dari atmosfer ini dikenal sebagai deposisi atmosfer atau atmospheric deposition.
Partikel halus dalam asap, termasuk particulate matter (PM2.5), mengandung berbagai komponen organik dan nonorganik. Ketika turun bersama hujan, material tersebut dapat mencapai daratan maupun badan air.
RI Kerahkan 71 Ribu Personel Tangani Karhutla dan Asap Lintas Negara
Selain melalui atmosfer, pencemar juga dapat terbawa limpasan air hujan yang melewati kawasan bekas terbakar. Aliran ini berpotensi membawa senyawa berbahaya, termasuk hidrokarbon aromatik polisiklik atau polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), serta sejumlah logam. Kondisi tersebut dapat menjadi lebih rumit ketika kebakaran terjadi di lahan gambut. Perubahan karakteristik tanah akibat terbakar bisa mengurangi kemampuan air untuk meresap, sehingga limpasan menuju sungai dan badan air lainnya menjadi lebih mudah terjadi.
Penelitian di Sungai Sebangau, Kalimantan Tengah, mencatat perubahan tingkat keasaman air setelah kebakaran besar pada 2015. Nilai pH yang sebelumnya 3,88 turun menjadi 3,20, menunjukkan peningkatan keasaman perairan. Perubahan pH dapat memengaruhi kondisi ekosistem air. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya menilai dampak karhutla tidak hanya berdasarkan luas lahan yang terbakar, tetapi juga melalui perubahan kualitas perairan di sekitarnya.
Dampak terhadap ikan dan sumber pangan
Masuknya material sisa pembakaran ke perairan dapat menambah unsur hara secara berlebihan. Pengayaan nutrien ini dikenal sebagai eutrofikasi, yaitu kondisi yang dapat memicu pertumbuhan alga dalam jumlah besar. Ketika alga mati, mikroorganisme menggunakan oksigen untuk menguraikan material tersebut.
NHM Kerahkan Tim Darurat untuk Padamkan Karhutla Gosowong
Proses penguraian yang meningkat dapat mengurangi kadar oksigen terlarut dalam air, sehingga ikan dan organisme perairan lainnya menghadapi ancaman terhadap kelangsungan hidupnya. Gangguan ekosistem tersebut dapat berdampak langsung pada hasil perikanan. Penelitian di kawasan gambut Sebangau menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan turun hingga 78 persen setelah kebakaran besar pada 2015.
Berkurangnya ikan yang dapat ditangkap berpotensi mengurangi pendapatan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada perikanan. Pada saat yang sama, ketersediaan pangan yang berasal dari perairan juga dapat terdampak.
Risiko lainnya berkaitan dengan kemungkinan perubahan kadar kontaminan dalam tubuh organisme air. Penelitian di Kanada menemukan bahwa total merkuri dalam tubuh ikan di Danau Moab meningkat hingga lima kali lipat setelah kebakaran hutan. Merkuri merupakan logam berat yang dapat membahayakan kesehatan manusia apabila paparannya melampaui batas aman.
Kemenhut Catat Hotspot Karhutla Turun Jadi 93 Titik
Temuan di Danau Moab menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran berpotensi menjangkau rantai makanan perairan. Meski demikian, besarnya risiko bagi konsumen tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan kejadian kebakaran. Penilaiannya perlu mempertimbangkan jenis kontaminan, konsentrasi yang ditemukan, serta tingkat paparan terhadap manusia.
Pemantauan lingkungan setelah kebakaran
Pengawasan pascakarhutla perlu mencakup kondisi perairan, bukan hanya luas wilayah terbakar, jumlah titik panas, dan mutu udara. Sungai serta ekosistem air yang terhubung dengan kawasan terdampak juga memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui perubahan lingkungan.
Parameter yang dapat dipantau meliputi tingkat keasaman atau pH, suhu air, kekeruhan, oksigen terlarut, kandungan nutrien, serta kontaminan tertentu sesuai dengan kondisi wilayah. Pengambilan sampel air sebelum dan sesudah hujan juga dapat membantu mengidentifikasi perubahan kualitas air. Pendekatan ini memungkinkan masuknya material sisa pembakaran melalui aliran air diketahui lebih dini.
DPR RI Soroti Karhutla Berulang, Evaluasi Regulasi dan Pencegahan Mendesak
Pengamatan terhadap kondisi ikan dan perubahan hasil tangkapan masyarakat perlu melengkapi pengukuran kualitas air. Informasi tersebut dapat membantu menggambarkan gangguan ekosistem sekaligus memperlihatkan dampaknya terhadap penghidupan warga. Hujan memang membantu memadamkan kebakaran dan mengurangi asap di udara, tetapi aliran air juga dapat memindahkan sisa pembakaran dari daratan ke perairan. Karena itu, pemantauan sungai, kondisi ekosistem air, dan sumber pangan menjadi bagian penting dalam penanganan dampak karhutla setelah kebakaran berhasil dipadamkan.