Perguruan tinggi diminta tidak berhenti pada penggunaan chatbot AI untuk mencari informasi atau menjawab pertanyaan. Dilansir dari Medcom, APTISI menilai kampus perlu segera menguasai agentic AI agar lulusan dan pengajar tidak tertinggal dari kebutuhan industri.
Teknologi ini dinilai lebih relevan untuk dunia kerja karena mampu menjalankan rangkaian tugas secara lebih mandiri. Dengan kewenangan yang diberikan pengguna, agentic AI dapat membantu merencanakan sekaligus mengeksekusi pekerjaan menuju tujuan tertentu.
Wakil Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Bidang Pembelajaran dan Akademik, Paristiyanti Nurwardani, mengatakan perkembangan AI sudah memasuki tahap yang lebih maju. Karena itu, pemanfaatannya tidak cukup hanya untuk aktivitas sederhana.
APTISI Siapkan Pemimpin Kampus Hadapi Education 6.0 pada 2035
"Barusan saja mendapat informasi dari pembicara kami dari London bahwa yang menggunakan AI seperti yang sekarang ini kita lakukan itu nggak mungkin bisa kerja di industri. Yang diperlukan adalah agentic AI yang memang harus dipelajari sama kita agar mereka jadi asisten kita," kata Paristiyanti.
Ia menegaskan, penguasaan teknologi tersebut penting agar kompetensi mahasiswa tetap sesuai dengan arah perkembangan industri. Menurut dia, kampus harus beradaptasi jika tidak ingin tertinggal dari perubahan yang lebih dulu terjadi di tingkat internasional.
"Kalau internasional udah pakai agentic AI, kita masih mau pakai main-main hanya lihat buat nyari restoran, nyari bioskop, wah kita ketinggalan zaman," kata Paristiyanti.
Stella Christie Buka Survei untuk Tentukan Arah Kampus Indonesia
APTISI juga menilai metode lama dalam kegiatan akademik tidak lagi memadai. AI dipandang perlu dipakai untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung mutu tridarma perguruan tinggi.
"Kami ini udah nggak bisa lagi dengan cara-cara yang lama, jadi harus mau nggak mau, suka nggak suka, kita harus berteman dan bersahabat dengan AI untuk meningkatkan produktivitas dari tridarma perguruan tinggi," ujar Paristiyanti.
Penyiapan strategi penerapan AI secara menyeluruh, menurut Sekretaris Jenderal APTISI Arief Kusuma, harus dimulai dari penguatan kapasitas dosen. Selain itu, mahasiswa juga perlu dibekali pemahaman tentang penggunaan AI yang tepat dan bertanggung jawab.
Brian Yuliarto Dorong Kampus Perkuat Riset untuk Industri
"Jadi memang strateginya memang ke dosen sendiri kita harus membuat, melakukan pendidikan, pelatihan, pemahaman mengenai AI. Kemudian juga mengenai mahasiswa sendiri selain pendidikan, pelatihan juga gimana menggunakan AI secara beretika," kata Arief.
Arief mencontohkan perubahan itu sudah terlihat di bidang pemrograman. Pekerjaan coding yang sebelumnya dikerjakan manual kini dapat dibantu AI dan terus bergerak menuju sistem yang semakin mandiri.
Untuk mendukung transisi tersebut, APTISI juga menyiapkan panduan etika penggunaan AI melalui Dewan Kode Etik. Pedoman ini ditujukan untuk membantu kampus menetapkan batas yang jelas dalam pemanfaatan AI pada aktivitas akademik.
Kemnaker Buka 70 Ribu Lowongan Magang Batch 3
"Kami juga sudah mempersiapkannya, kita punya nama Dewan Kode Etik, sedang mempersiapkan untuk menerapkan kira-kira panduanlah gimana menggunakan AI secara beretika," jelas Arief.
Salah satu contoh penerapan AI di kampus datang dari Universitas Komputer Indonesia (Unikom). Rektor Unikom, Eddy Soeryanto, menyebut hampir 12.000 mahasiswa dan dosen di kampusnya telah memakai teknologi AI dalam aktivitas sehari-hari.
"Dan hampir 12.000 mahasiswa di Unikom itu sudah, termasuk dosen, itu sudah mengimplementasikan teknologi AI ini dalam aktivitas sehari-hari," ungkap Eddy.
UT Tekankan Integritas Lulusan dan Soroti Akses Kuliah
Eddy menjelaskan Unikom telah membangun laboratorium AI lewat kerja sama dengan Google. Kampus itu juga mengembangkan sejumlah produk berbasis AI yang diikutkan dalam kompetisi nasional, termasuk inovasi yang meraih juara pertama dalam kompetisi nasional yang diselenggarakan Samsung.
Meski pemanfaatan AI kian luas, ia mengingatkan manusia tetap harus memegang kendali. Menurut dia, arah penggunaan teknologi tetap harus ditentukan oleh pengguna, bukan sebaliknya.
"Kita sebagai human itu sebagai pilotnya. AI sebagai kopilot. Dan kita yang mengarahkan dia untuk membangun sesuatu, bukan dia yang mengarahkan kita," tegasnya.
Kemendiktisaintek Bidik APK Pendidikan Tinggi Capai 40 Persen
Contoh efisiensi juga disampaikan Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Muhammad Suyanto. Ia mengatakan AI telah memangkas waktu produksi animasi secara sangat signifikan.
"Biasanya kita buat film animasi 5 bulan untuk misalkan 2 menit, sekarang 5 hari 2 menit sudah bisa selesai," tutup Suyanto.
Dorongan penguasaan AI itu dibawa APTISI dalam International Seminar 2026 bertajuk Securing the Future of Private Higher Education: Using Professional AI and Avatar-Driven Learning to Work for You and Lead the Global Digital Era. Acara berlangsung di Esa Unggul Global Innovation Hub, Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.
Kegiatan itu melibatkan pimpinan 82 perguruan tinggi swasta dan mitra industri teknologi internasional. Ketua Umum APTISI, Budi Djatmiko, menegaskan integrasi AI di lingkungan akademik kini sudah menjadi kebutuhan strategis.
"Pengintegrasian AI di lingkungan akademik bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis. Melalui kolaborasi global ini, kita ingin memastikan PTS di seluruh Indonesia tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemimpin dalam transformasi digital pendidikan tinggi ," tegas Budi.