Perum Bulog disiapkan menjadi penyangga pasokan jagung nasional untuk melindungi harga hasil panen petani sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku pakan bagi peternak ayam petelur. Dilansir dari Suara, rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi di Kementerian Pertanian RI melalui penguatan kemitraan petani, koperasi, dan peternak.

Dalam skema yang dibahas pemerintah, pengembangan lahan jagung ditargetkan mencapai 300 ribu hektare dengan produktivitas rata-rata 7 ton per hektare. Target tersebut diproyeksikan menghasilkan 2,1 juta ton jagung per tahun, dengan sekitar 1,8 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan pakan melalui koperasi dan kelompok peternak.

Sisa produksi sekitar 300 ribu ton berpotensi menjadi surplus yang akan diserap Bulog sebagai pembeli siaga. Jagung tersebut dapat disimpan melalui sistem resi gudang dan dimanfaatkan sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan peternak ketika pasokan berkurang, termasuk melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Bulog Kuasai 4,5 Juta Ton Beras untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya menghubungkan kepentingan petani dan peternak dalam satu sistem distribusi. Menurut dia, koperasi dapat menjadi penghubung langsung antara produsen jagung dan pengguna bahan baku pakan agar penyerapan hasil panen dan ketersediaan pasokan lebih terjamin.

Andi menegaskan bahwa pemerintah menyiapkan Bulog untuk menjaga keseimbangan pasokan ketika produksi meningkat maupun kebutuhan pakan bertambah.

"Ketika produksi jagung melimpah, hasil panen petani harus tetap memiliki pasar. Di sinilah Bulog kita siapkan sebagai penyangga yang dapat menyerap kelebihan produksi, mengelola cadangannya, dan menyalurkannya kembali ketika peternak membutuhkan. Kita dahulukan kepentingan petani dan peternak Indonesia agar keduanya terlindungi dan usaha mereka terus berjalan," ujar Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian RI.

Produktivitas Padi Sumatera Barat Naik 5,95 Persen pada 2025

Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhan, S.Sos., S.H., M.Han., menyatakan bahwa Bulog siap mendukung kebijakan tersebut melalui pengadaan, pengelolaan persediaan, dan distribusi jagung yang terintegrasi. Pelaksanaannya akan mengikuti penugasan pemerintah dan kebutuhan di lapangan.

Ahmad Rizal menjelaskan bahwa mekanisme penyerapan diperlukan untuk memberikan kepastian pasar saat produksi petani meningkat, sedangkan cadangan jagung dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan peternak.

"Bulog siap menjalankan peran sebagai penyangga pasokan jagung nasional sesuai penugasan pemerintah. Kami ingin memastikan bahwa ketika petani menghasilkan produksi yang melimpah, ada mekanisme penyerapan yang memberikan kepastian pasar. Pada saat yang sama, ketika peternak membutuhkan jagung untuk menjaga keberlangsungan produksinya, Bulog dapat hadir menyediakan pasokan melalui skema stabilisasi yang tepat sasaran," jelas Ahmad Rizal.

Bulog Luncurkan Kemasan Baru Beras Kita Medium di Bantul

Dalam pelaksanaan program, Bulog juga akan mengoptimalkan pengelolaan stok agar hasil panen yang telah diserap dapat kembali disalurkan kepada peternak sesuai ketentuan pemerintah melalui SPHP.

"Yang ingin kita bangun adalah sistem yang saling menguatkan. Jagung hasil produksi petani dalam negeri diserap dan dikelola dengan baik, kemudian dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan peternak melalui SPHP sesuai ketentuan pemerintah. Dengan begitu, petani mendapatkan kepastian penyerapan, peternak memperoleh akses pakan yang lebih terjangkau, dan stabilitas pasokan dapat terus kita jaga," ujar Ahmad Rizal.

Penguatan kemitraan tersebut juga mencakup pemasaran telur yang dihasilkan peternak mikro dan kecil. Rancangan program memproyeksikan sekitar 1,9 juta ton telur terserap melalui pasar reguler, termasuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kementan Bangun Lima Pabrik Pakan di Sentra Jagung

Pemerintah juga mendorong pengembangan industri pengolahan telur menjadi produk cair dan tepung telur untuk memperluas pasar domestik serta membuka peluang ekspor. Bulog akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, koperasi peternak, kelompok tani, dan pemangku kepentingan lainnya guna mematangkan mekanisme penyerapan surplus, penyimpanan, serta distribusi jagung.