Bank Central Asia ( BBCA ) membukukan laba bersih Rp45,2 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 4% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Berdasarkan laporan kinerja kuartal III 2026 yang dipublikasikan Stockbit pada 27 Oktober 2026, pencapaian tersebut didukung percepatan pertumbuhan kredit, peningkatan margin bunga bersih, dan penurunan beban provisi. Pada kuartal III 2026, BBCA mencatat laba bersih Rp15,7 triliun, meningkat 9% YoY dan 6% secara kuartalan atau quarter-on-quarter (QoQ).
Realisasi laba selama sembilan bulan tersebut setara dengan 75% estimasi konsensus untuk 2026, sama dengan proporsi realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya terhadap laba tahunan 2025. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BBCA mencapai Rp22,5 triliun pada kuartal III 2026, tumbuh 5% YoY dan 6% QoQ. Pertumbuhan tahunan tersebut berbalik menguat dibandingkan semester I 2026, ketika NII masih turun tipis 1% YoY.
Percepatan itu didukung pertumbuhan kredit yang mencapai 12% YoY per September 2026, naik dari 8% pada Juni 2026. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) juga meningkat menjadi 5,6% pada kuartal III 2026, dibandingkan 5,3% pada kuartal sebelumnya.
Laba Bersih BNI Capai Rp12,5 Triliun Per Juli 2026
Kenaikan NIM terjadi setelah penyesuaian suku bunga kredit pada segmen korporasi. Imbal hasil kredit rupiah meningkat 18 basis poin secara kuartalan, sementara biaya dana (cost of funds/CoF) tetap stabil. Menurut analisis Stockbit, kenaikan NIM BBCA berbeda dari kondisi Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia ( BBNI ). Analisis tersebut menyoroti keunggulan basis simpanan BBCA dan rasio kredit terhadap simpanan (loan-to-deposit ratio/LDR) yang lebih longgar di tengah likuiditas ketat.
BBCA menaikkan proyeksi pertumbuhan kredit 2026 menjadi 10–11% YoY, dari perkiraan sebelumnya sebesar 8–10% YoY. Penyesuaian itu didasarkan pada pertumbuhan kredit hingga September dan prospek permintaan kredit yang memasuki kuartal IV 2026. Penurunan beban provisi turut mendorong laba kuartalan BBCA. Beban tersebut merosot 53% YoY pada kuartal III 2026, sementara biaya kredit (credit cost) berada di level 0,4%, dibandingkan 0,6% pada kuartal III 2025.
Laba operasional sebelum pencadangan kerugian (pre-provision operating profit/PPOP) tumbuh 2% YoY pada kuartal III 2026, sama dengan pertumbuhan pada semester I. Namun, NII menjadi pendorong utama pada kuartal III, sedangkan pendapatan nonbunga lebih berperan pada semester I. Manajemen BBCA memperkirakan NIM pada kuartal IV 2026 berpotensi sedikit meningkat atau setidaknya stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.
LPDB Koperasi Perkuat Rekonsiliasi dan Audit Keuangan 2026
Perkiraan itu mempertimbangkan ekspektasi kenaikan BI Rate satu kali sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026. Dalam program pembelian kembali saham atau buyback, manajemen mengungkapkan bahwa dari anggaran Rp5 triliun, dana yang masih tersedia mencapai Rp4,4 triliun. Pelaksanaannya akan dilakukan secara selektif dan oportunistis.
Sementara itu, BBNI mencatat laba bersih Rp16,1 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat 7% YoY. Pada kuartal III, laba bersih mencapai Rp5,4 triliun, naik 7% YoY dan 5% QoQ, setara 77% estimasi konsensus untuk 2026.
Berbeda dari BBCA, NIM BBNI turun menjadi 3,3% pada kuartal III 2026, dari 3,6% pada kuartal sebelumnya. Stockbit mengaitkan penurunan tersebut dengan kenaikan biaya dana menjadi 3,2%, dari 2,6%, di tengah tekanan likuiditas pada pertengahan 2026. Manajemen BBNI mempertahankan proyeksi NIM 2026 pada kisaran 3,3–3,5%, dengan pertimbangan kondisi likuiditas dan biaya dana diperkirakan tidak seketat periode Juni–Juli 2026.
IHSG Menguat 1,09 Persen Saat Asing Jual Saham Rp744 Miliar
Perseroan juga menaikkan proyeksi pertumbuhan kredit menjadi 10–13% YoY, dari sebelumnya 8–10% YoY. Pertumbuhan PPOP BBNI melambat menjadi 6% YoY pada kuartal III 2026, dibandingkan 14% pada semester I. Penurunan beban provisi sebesar 20% YoY membantu mengimbangi perlambatan tersebut, sementara biaya kredit turun menjadi 0,7% dari 1,2% pada kuartal sebelumnya.
Secara kumulatif, biaya kredit BBNI mencapai 1% selama sembilan bulan pertama 2026, berada di batas bawah proyeksi manajemen untuk setahun penuh. Namun, biaya operasional masih meningkat 11% YoY pada kuartal III dan 12% YoY selama sembilan bulan, seiring inisiatif transformasi jaringan cabang yang dimulai pada Juli 2026.