Fitriyani menuturkan, peristiwa nahas tersebut terjadi saat dirinya bersama keluarga tengah terlelap tidur. Ia terbangun setelah mendengar suara benturan keras, seperti bunyi grintingan gelas jatuh. Tak lama kemudian, bau asap mulai tercium dan rumahnya dengan cepat dipenuhi kepulan asap tebal.
“Suami saya langsung keluar rumah untuk menyelamatkan diri karena asap sudah sangat pekat. Saya keluar lewat pintu depan, sedangkan suami saya harus lewat atas atap karena asap di dalam sudah tidak memungkinkan untuk turun,” ungkap Fitriyani dengan suara bergetar.
Dalam kondisi panik, ia hanya sempat menyelamatkan satu unit sepeda motor yang berada di ruang tamu. Ia juga berupaya memberi tahu warga sekitar dengan memukul tiang listrik agar orang-orang segera terbangun. Saat itu, cuaca gerimis disertai angin kencang membuat api dengan cepat membesar dan menjalar ke seluruh bangunan.
Menurut Fitriyani, pada awal kejadian belum terdengar suara ledakan. Namun seiring api membesar, beberapa kali ledakan terjadi akibat banyaknya tabung gas di dalam rumah. Sekitar pukul 03.00 WIB lewat, sedikitnya lima tabung gas berisi meledak. Tabung-tabung tersebut biasa digunakan untuk keperluan berjualan, ditambah lagi di dapur dan rumah tetangga yang juga berjualan gas terdapat sejumlah tabung lainnya.
“Melihat api semakin besar, saya hanya bisa pasrah. Api sudah tidak mungkin dikendalikan, semuanya habis terbakar,” ujarnya lirih.
Petugas pemadam kebakaran dari wilayah Simpang Empat kemudian tiba di lokasi. Namun, proses pemadaman sempat terkendala pasokan air. Air di mobil pemadam cepat habis sehingga petugas harus bolak-balik mengisi ulang, sementara kondisi sungai sedang surut dan api terus membesar.
Api diketahui mulai berkobar sekitar pukul 03.00 WIB dan baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 07.00 WIB. Akibat kebakaran tersebut, Fitriyani memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp50 juta. Seluruh pakaian serta perabot dan barang elektronik, seperti kulkas dan mesin cuci, tidak dapat diselamatkan.
Di tengah musibah tersebut, Fitriyani mengaku bersyukur karena dirinya terbangun lebih awal dari biasanya sehingga bisa menyelamatkan diri bersama keluarga.
“Biasanya saya bangun jam enam pagi. Alhamdulillah saat itu terbangun lebih cepat. Kalau tidak, mungkin kami ikut terbakar,” katanya.
Ia pun berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah atas musibah yang menimpanya.
“Saya berharap pemerintah bisa melihat langsung kondisi kami dan membantu keluarga kami agar bisa bangkit kembali,” pungkasnya. [SK]